Menghindari Kerumunan! Rekomendasi Spot Tahun Baru di Puncak yang Jarang Disentuh

Lampu rem memanjang seperti ular merah di jalan menanjak. Jam sudah menunjukkan pukul 20.40, tapi mobil hampir tidak bergerak. Dari kejauhan, suara klakson bersahut-sahutan, bercampur terompet plastik yang entah dari mana asalnya. Di radio, penyiar berbicara soal malam puncak liburan. Tidak ada yang

Bukan Pesta, Bukan Terompet! Rekomendasi Spot Tahun Baru Tenang di Puncak

Kabut turun lebih cepat malam itu. Jam di dashboard mobil menunjukkan pukul 22.15, tapi suara yang terdengar hanya mesin idle dan desir angin dari balik jendela. Tidak ada terompet. Tidak ada hitungan mundur. Hanya lampu-lampu vila di kejauhan yang menyala seperti titik-titik kecil,

Viral di Media Sosial! Benarkah Harga Makanan di Puncak Selalu Mahal?

Satu video berdurasi 30 detik cukup untuk mengubah persepsi ribuan orang. Seorang kreator berhenti di pinggir jalan Puncak, merekam jagung bakar, lalu menambahkan teks besar: “Jagung bakar Rp30.000!!!” Kolom komentar langsung ramai. Ada yang marah, ada yang menertawakan, ada juga yang bersumpah tidak

Enggak Mau Kaget Harga? Ini Tips Hemat Kuliner di Puncak

Puncak selalu punya cara membuat orang berhenti. Udara dingin, kabut turun perlahan, perut mulai terasa kosong. Di saat seperti itu, logika sering kalah oleh kebutuhan. Harga dibaca sekilas, lalu dikesampingkan. Namun bagi sebagian wisatawan, terutama yang sering datang, ada strategi kecil agar tetap

Jagung Bakar Mahal di Puncak, Tapi Tetap Laku Keras! Kenapa?

Sore itu, mobil berhenti di bahu jalan. Kabut turun cepat, suhu merosot tanpa peringatan. Di depan warung kecil, daftar menu nyaris tak terlihat. Seorang pengunjung membaca cepat, alisnya sempat terangkat saat mendengar harga. Lalu ia berkata pelan, “Ya sudah, dua ya.” Tidak ada

Jagung Bakar di Puncak! Kenapa Harga di Setiap Titik Bisa Berbeda

Sore itu, dua warung jagung bakar berjarak tak sampai lima ratus meter. Yang satu tepat di tikungan macet, yang lain agak masuk ke area pemukiman. Menunya sama. Jagungnya sama-sama dibakar di atas arang. Tapi harganya berbeda cukup jauh. Di warung pertama, jagung dijual

Kenapa Harga Kuliner di Puncak Terasa Tinggi? Ini Jawaban Penjualnya

Pukul empat sore, kabut mulai turun lebih cepat dari biasanya. Di tepi jalan Raya Puncak, Pak Ujang menyalakan tungku arangnya. Tangannya cekatan, meski udara dingin membuat ujung jari terasa kaku. Jagung-jagung mentah disusun rapi, siap dibakar satu per satu. “Kalau enggak sekarang, nanti

Dulu Rp5.000, Sekarang Berapa? Perubahan Harga Kuliner di Puncak

Kabut pagi di Puncak dulu terasa berbeda. Jalanan masih lengang, warung-warung kayu berdiri seadanya, dan seorang ibu penjual jagung bakar bisa duduk santai sambil menunggu pembeli. Saat itu, sebatang jagung dibanderol lima ribu rupiah. Kadang malah ditambah bonus senyum dan obrolan ringan. Bagi

Harga Makanan di Puncak Bikin Kaget? Pengalaman Wisatawan Pertama Kali

Kabut sore turun cepat di jalur Puncak. Mobil melambat, klakson bersahutan, dan hawa dingin mulai terasa menembus jaket tipis. Raka, yang baru pertama kali ke Puncak, menurunkan kaca jendela. Bau arang dan jagung manis langsung menyergap hidungnya. “Berhenti sebentar, yuk,” kata temannya. Mereka

Berapa Harga Jagung Bakar dan Kuliner Lain di Puncak? Ini Gambaran Biayanya

Kabut turun perlahan di tepi jalan Raya Puncak. Di sebuah warung kayu sederhana, asap tipis dari tungku arang naik bersamaan dengan aroma jagung bakar yang manis dan gosong di ujungnya. Seorang bapak paruh baya membolak-balik jagung dengan tangan cekatan, sementara dua motor berhenti