Taman Siliwangi, Spot Ngabuburit Gratis di Kabupaten Bogor yang Ramah Anak dan Teduh
Angin sore berembus pelan di antara daun-daun besar yang menaungi bangku taman. Rani menggelar tikar tipis di atas rumput, sementara dua anaknya sudah berlari kecil menuju area bermain. Matahari belum sepenuhnya turun, tapi langit di atas Kabupaten Bogor mulai berubah warna jingga lembut yang menenangkan.
“Jangan jauh-jauh ya,” katanya setengah berteriak, sambil tersenyum.
Di sekelilingnya, suasana terasa hidup namun tidak bising. Ada pasangan muda duduk berdekatan, beberapa lansia berjalan santai, dan sekelompok remaja mengobrol sambil menunggu waktu berbuka. Tak ada musik keras. Tak ada aroma kopi mahal dari mesin espresso. Hanya semilir angin dan percakapan ringan yang bersahutan.
Di tempat inilah banyak warga memilih menghabiskan waktu sore Ramadan. Taman Siliwangi perlahan menjadi spot ngabuburit gratis di Kabupaten Bogor yang terasa sederhana, tapi justru itu yang membuatnya istimewa.
Baca Juga: Mosac Mayor Oking Space and Coffee Bogor, Nongkrong Seru dengan Playroom PS dan Jus Segar Favorit
Ruang Terbuka yang Dicari Saat Ramadan
Ramadan selalu membawa perubahan ritme. Sore hari menjadi momen paling dinanti. Orang-orang mencari tempat untuk menunggu azan magrib ada yang memilih pusat perbelanjaan, ada yang berburu takjil di pinggir jalan, ada pula yang sekadar berjalan santai.
Namun belakangan, ruang terbuka hijau kembali dilirik.
Taman Siliwangi menawarkan sesuatu yang sering terasa mahal di tengah hiruk-pikuk kota: keteduhan dan ruang bernapas. Pohon-pohon tinggi membuat udara terasa lebih sejuk. Area terbuka memungkinkan anak-anak bergerak bebas tanpa rasa khawatir berlebihan.
Bagi keluarga seperti Rani, pilihan ini terasa masuk akal.
“Kalau ke kafe, pasti ada saja yang dibeli. Di sini, kami bisa bawa bekal sendiri,” ujarnya.
Ngabuburit pun tak harus identik dengan pengeluaran.
Baca Juga: Anak Pulang Tidak Hanya Lelah, Tapi Juga Tahu Banyak Hal dari Water Kingdom Mekarsari
Kenapa Taman Siliwangi Jadi Favorit Keluarga?
Ada beberapa alasan sederhana mengapa taman ini ramai menjelang magrib.
1. Gratis dan Terbuka untuk Semua
Tidak ada tiket masuk. Siapa pun bisa datang, duduk, atau sekadar berjalan santai. Ini membuatnya inklusif baik untuk keluarga, remaja, hingga lansia.
2. Ramah Anak
Area lapang memungkinkan anak-anak berlari, bermain sepeda kecil, atau sekadar mengejar gelembung sabun. Orang tua tetap bisa mengawasi dari jarak dekat.
3. Teduh dan Nyaman
Pepohonan rindang menjadi daya tarik utama. Di tengah cuaca Bogor yang kadang lembap, naungan alami ini membuat sore terasa lebih bersahabat.
4. Lokasi Mudah Dijangkau
Berada di kawasan yang cukup strategis, taman ini bisa diakses warga sekitar tanpa perjalanan jauh.
5. Suasana Sosial yang Hangat
Banyak keluarga datang bersama. Ada yang menggelar tikar, ada yang membawa bekal sederhana. Interaksi terasa lebih cair dibanding ruang tertutup.
Ngabuburit di sini bukan tentang pamer tempat nongkrong, melainkan tentang kebersamaan.
Baca Juga: Sisi Kanan Coffee Bogor: Ruang Tenang di Tengah Kota Hujan yang Selalu Ramai Cerita
Ngabuburit Tanpa Konsumtif
Fenomena ngabuburit beberapa tahun terakhir sering bergeser ke arah yang lebih konsumtif. Diskon buka puasa, promo minuman, atau tempat nongkrong tematik menjadi magnet tersendiri.
Namun tidak semua orang ingin atau mampu mengikuti arus itu.
Ruang seperti Taman Siliwangi memberi alternatif. Warga bisa datang lebih awal, duduk santai, mengobrol, bahkan membaca buku sambil menunggu waktu berbuka.
Bagi sebagian orang, justru di sinilah esensi Ramadan terasa lebih dekat menahan diri, bersabar, dan menikmati proses.
Anak-anak belajar bahwa menunggu tidak selalu harus diisi dengan gawai. Orang tua pun punya ruang untuk benar-benar hadir, tanpa distraksi layar.
Pentingnya Ruang Terbuka Hijau untuk Keluarga
Di banyak kota dan kabupaten, ruang terbuka hijau sering kalah oleh pembangunan komersial. Padahal, keberadaan taman publik memiliki dampak sosial yang besar.
Beberapa manfaat yang terasa langsung:
- Memberi ruang aktivitas fisik gratis
- Mengurangi stres lewat paparan alam
- Menjadi titik temu lintas generasi
- Mendorong interaksi sosial yang sehat
- Menjadi ruang alternatif selain pusat belanja
Selama Ramadan, fungsi itu terasa makin relevan. Waktu sore yang biasanya terjebak macet kini berubah menjadi momen berkumpul.
Taman bukan sekadar ruang fisik, tetapi ruang sosial.
Baca Juga: Maraca Books & Coffee Bogor! Tempat Sempurna untuk Ngopi, Baca, dan Bekerja
Suasana Sore yang Mengikat Ingatan
Menjelang pukul enam, langit semakin redup. Pedagang takjil mulai terlihat di sekitar area taman, namun tidak mendominasi suasana. Aroma gorengan sesekali tercium, bercampur dengan wangi rumput yang baru dipangkas.
Rani membuka kotak bekal kecil. Ada kurma, air mineral, dan beberapa potong kue sederhana.
Anaknya kembali mendekat, pipinya sedikit memerah karena berlari.
“Sudah mau azan, Ma?” tanyanya.
Belum. Tapi suara percakapan mulai melambat. Orang-orang bersiap.
Ketika akhirnya azan magrib berkumandang dari masjid tak jauh dari taman, suasana berubah hening sejenak. Beberapa orang menunduk, sebagian mengangkat tangan berdoa.
Tidak ada kemewahan di momen itu. Tapi justru di situlah letak kehangatannya.
Alternatif Ngabuburit yang Lebih Seimbang
Memilih spot ngabuburit gratis di Kabupaten Bogor seperti Taman Siliwangi bukan berarti anti tempat modern. Ini soal keseimbangan.
Sesekali nongkrong di kafe tentu menyenangkan. Namun menghadirkan ruang yang lebih alami memberi pengalaman berbeda terutama bagi anak-anak yang sedang tumbuh.
Mereka belajar berinteraksi dengan lingkungan nyata. Mereka mengenal rumput, tanah, dan pohon, bukan hanya lantai keramik dan pendingin ruangan.
Bagi orang tua, ini juga kesempatan memperlambat langkah. Tidak terburu-buru. Tidak tergoda impuls belanja.
Ramadan menjadi ruang refleksi kecil yang terjadi di bangku taman.
Baca Juga: Mosac Mayor Oking Space and Coffee Bogor, Nongkrong Seru dengan Playroom PS dan Jus Segar Favorit
Menunggu Magrib dengan Cara yang Sederhana
Saat langit benar-benar gelap, satu per satu keluarga mulai berkemas. Tikar dilipat. Botol minum dimasukkan kembali ke tas. Anak-anak digandeng pulang dengan langkah lebih pelan.
Rani tersenyum kecil. Sore itu tidak mahal, tidak mewah, tapi terasa penuh.
Esok hari, kemungkinan besar ia akan kembali lagi.
Karena kadang, yang dibutuhkan bukan tempat yang ramai promosi, melainkan tempat yang memberi ruang untuk bernapas.
Dan di antara rindangnya pepohonan, Taman Siliwangi terus menjadi pilihan sederhana bagi warga yang ingin menunggu magrib dengan cara yang lebih tenang, lebih dekat, dan lebih hangat.