17 February 2026
Event Wisata

Imlek di Bogor Hari Ini, Klenteng Hok Tek Bio Ramai dan Pecinan Suryakencana Diserbu Wisatawan

Imlek di Bogor Hari Ini, Klenteng Hok Tek Bio Ramai dan Pecinan Suryakencana Diserbu Wisatawan

Asap dupa mengepul pelan di udara pagi yang masih lembap. Di halaman Klenteng Hok Tek Bio, suara langkah terdengar bersahut-sahutan. Seorang pria paruh baya menangkupkan tangan di dada, menunduk perlahan sebelum menancapkan tiga batang hio ke altar.

Hari ini, suasana Imlek di Bogor terasa hidup sejak matahari belum tinggi.

Lampion merah tergantung berderet di sepanjang pintu masuk klenteng. Warna emas memantul dari ornamen ukiran kayu yang sudah berdiri puluhan tahun. Di luar, pedagang bunga dan lilin sembahyang sibuk melayani pembeli yang datang silih berganti.

Perayaan Imlek di Bogor hari ini bukan hanya tentang ritual. Ia menjadi momen yang menggerakkan kota dari ruang ibadah hingga sudut kuliner legendaris.

Baca Juga: 5 Tempat Main Padel di Bogor yang Lagi Naik Daun, dari Sentul sampai Tengah Kota

Klenteng Hok Tek Bio Jadi Titik Utama Perayaan

Klenteng Hok Tek Bio dikenal sebagai salah satu klenteng tertua di Bogor. Setiap Tahun Baru Imlek, tempat ini selalu menjadi pusat perhatian.

Sejak pagi, antrean umat sudah terlihat di pintu masuk. Mereka datang membawa dupa, buah, dan harapan untuk tahun yang lebih baik.

Di dalam ruang utama, suasana terasa khidmat. Aroma dupa bercampur dengan wangi kayu tua. Beberapa keluarga datang bersama anak-anak mereka, mengenakan pakaian bernuansa merah dan emas.

Bagi banyak warga, tradisi ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Ia adalah simbol keberlanjutan nilai keluarga dan doa yang diwariskan lintas generasi.

Baca Juga: 5 Tempat Main Padel di Bogor yang Lagi Naik Daun, dari Sentul sampai Tengah Kota

Suryakencana Berubah Jadi Lautan Manusia

Tak jauh dari klenteng, kawasan Pecinan Suryakencana mulai dipadati pengunjung sejak siang hari.

Deretan toko tua yang biasanya tampak biasa saja kini terlihat lebih semarak. Lampion digantung di beberapa titik, sementara musik bernuansa oriental terdengar dari pengeras suara toko.

Pengunjung datang dengan berbagai tujuan:

  • Beribadah ke klenteng
  • Berburu kuliner khas Imlek
  • Berfoto di kawasan Pecinan
  • Sekadar menikmati suasana tahun baru

Beberapa kuliner yang paling banyak dicari hari ini antara lain laksa Bogor, asinan, bakcang, kue keranjang, hingga jajanan tradisional yang hanya muncul saat momen tertentu.

Antrean terlihat di beberapa warung legendaris. Meja-meja penuh, tetapi suasana tetap terkendali. Banyak keluarga memilih makan bersama setelah selesai beribadah.

Baca Juga: Menunggu Azan Magrib di Kampoeng Ramadan Sahira Hotel, Ketika Buka Puasa Kembali Jadi Perayaan Keluarga

Lonjakan Wisata Saat Imlek

Momentum Imlek hampir selalu membawa peningkatan kunjungan ke pusat kota Bogor. Selain warga lokal, pengunjung dari Jakarta dan sekitarnya juga terlihat memadati kawasan ini.

Akses yang relatif dekat membuat Bogor menjadi pilihan favorit untuk libur singkat. Perayaan budaya yang terbuka untuk umum turut menjadi daya tarik tersendiri.

Beberapa pelaku usaha kuliner mengaku momen seperti ini bisa meningkatkan omzet dibanding hari biasa. Hotel di sekitar pusat kota pun mengalami kenaikan tingkat hunian, terutama yang berada dekat Suryakencana dan Kebun Raya.

Perayaan ini secara tidak langsung menjadi penggerak ekonomi lokal.

Baca Juga: Olahraga Padel di Bogor Lagi Hype: Dari Tren Baru ke Gaya Hidup Urban

Tradisi yang Tetap Dijaga di Tengah Modernitas

Selain ibadah dan kuliner, tradisi berbagi angpao masih terlihat di beberapa keluarga. Anak-anak kecil tampak tersenyum menerima amplop merah dari orang tua atau kakek-nenek mereka.

Warna merah mendominasi pakaian pengunjung. Namun di balik warna cerah itu, ada makna yang lebih dalam: harapan akan keberuntungan, kesehatan, dan rezeki yang lebih baik.

Yang menarik, perayaan Imlek di Bogor juga dihadiri masyarakat lintas latar belakang. Banyak warga non-Tionghoa datang untuk menyaksikan suasana atau menikmati kuliner khas.

Ini menunjukkan bagaimana perayaan budaya bisa menjadi ruang perjumpaan yang inklusif.

About Author

Dea

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *