18 January 2026
Kuliner

Semangkuk Gultik di Pinggir Rel: Cerita Mas Raden di Tikungan Jalan Sholeh Iskandar Bogor

Semangkuk Gultik di Pinggir Rel: Cerita Mas Raden di Tikungan Jalan Sholeh Iskandar Bogor

Asap tipis mengepul dari mangkuk kecil yang dipegang dengan satu tangan. Tangan lainnya bersiap menahan motor yang diparkir seadanya. Dari kejauhan, bunyi klakson bercampur deru roda besi kereta yang mendekat. Sore di Jalan Sholeh Iskandar tidak pernah benar-benar tenang, apalagi di sebuah tikungan sempit yang diapit jalan besar dan rel kereta.

Di titik yang biasanya hanya jadi ruang lewat, bukan ruang singgah, seseorang memilih berhenti. Bukan untuk beristirahat lama, hanya untuk semangkuk gultik yang hangat. Itulah yang belakangan terjadi di sebuah sudut Bogor Barat, sejak Gultik Mas Raden mulai membuka lapaknya.

Tidak ada meja panjang. Tidak ada musik. Tidak ada pencahayaan dramatis. Yang ada hanyalah gerobak, tikungan jalan, dan aroma kuah gurih yang perlahan mengalahkan bau aspal panas.

Baca Juga: Anak Pulang Tidak Hanya Lelah, Tapi Juga Tahu Banyak Hal dari Water Kingdom Mekarsari

Ketika Ruang Kota Menjadi Meja Makan

Bogor dikenal dengan banyak hal: hujan, kebun raya, hingga jajanan kaki lima yang hidup di sudut-sudut tak terduga. Namun, makan di pinggir rel kereta, tepat di tikungan Jalan Sholeh Iskandar, menawarkan pengalaman yang berbeda. Di sini, makan bukan sekadar soal rasa, tapi soal keberanian berhenti sejenak di tengah ritme kota yang terus bergerak.

Gultik gulai sapi dengan porsi kecil memang sejak lama identik dengan makan cepat. Satu mangkuk jarang cukup. Dua atau tiga jadi hal biasa. Di tempat ini, ritme itu terasa makin pas. Kuah diseruput cepat, nasi habis dalam beberapa sendok, lalu orang kembali ke motornya sebelum lampu lalu lintas berubah.

Sensasi itulah yang membuat Gultik Mas Raden terasa menyatu dengan lingkungannya.

Baca Juga: Warung dan CoffeeShop Nengoneng Tanah Sareal: Tempat Singgah Warga di Antara Kopi dan Obrolan Sehari-hari

Gultik Mas Raden, Sederhana Tapi Mengikat

Secara tampilan, gultik yang disajikan tidak mencoba tampil berlebihan. Kuahnya cenderung ringan, tidak terlalu kental, dengan aroma rempah yang tidak menyengat. Potongan dagingnya kecil, sesuai tradisi gultik, namun cukup empuk untuk dinikmati tanpa banyak usaha.

Justru di kesederhanaan itulah daya tariknya muncul. Gultik Mas Raden tidak berusaha menjadi kuliner “tujuan”. Ia hadir sebagai kuliner singgah makanan yang menemani perjalanan pulang, bukan yang direncanakan sejak pagi.

Banyak pembeli datang tanpa ekspektasi tinggi, lalu pergi dengan perasaan hangat. Bukan hanya karena kuahnya, tapi karena pengalaman makannya.

Baca Juga: Menjelang Magrib, Dagangan Habis: Pelajaran Bisnis dari Jualan Takjil Ramadhan

Sensasi Makan Pinggir Rel yang Tidak Bisa Direkayasa

Setiap beberapa menit, suara kereta lewat menjadi latar yang tak terpisahkan. Getarannya terasa sampai ke telapak kaki. Beberapa orang refleks berhenti menyendok. Ada yang tersenyum kecil, ada juga yang justru menikmati momen itu.

Di sinilah letak keunikan Gultik Mas Raden. Sensasi makan seperti ini sulit dipindahkan ke ruang lain. Jika lapak ini berdiri di ruko atau food court, mungkin rasanya akan biasa saja. Namun, di tikungan jalan dengan rel di sampingnya, gultik ini menjadi pengalaman.

Bagi sebagian orang, makan di tempat seperti ini memberi rasa “jujur”. Tidak ada jarak antara dapur dan jalan. Tidak ada batas antara penjual dan pembeli. Semua berada di ruang yang sama, dengan kondisi yang sama-sama tidak sempurna.

Baca Juga: Outfit Lebaran 2026: Ketika Gaya Sederhana Justru Terasa Paling Pantas

Mengapa Tempat Tak Nyaman Justru Dicari

Ada perubahan menarik dalam cara orang menikmati kuliner belakangan ini. Ketika kafe dan tempat makan nyaman semakin banyak, sebagian orang justru mencari pengalaman sebaliknya. Panas, sempit, berdiri, dan serba cepat.

Gultik Mas Raden menjawab kebutuhan itu tanpa sengaja. Ia tidak menjual konsep, tapi situasi. Pembeli tidak datang untuk berlama-lama, melainkan untuk merasakan sesuatu yang berbeda dari rutinitas makan di meja.

Fenomena ini juga terlihat dari siapa saja yang mampir:

  • Pengendara motor yang pulang kerja
  • Sopir yang berhenti sebentar
  • Warga sekitar yang ingin makan hangat tanpa ribet

Semua datang dengan tujuan yang sama makan cepat, lalu melanjutkan perjalanan.

Baca Juga: 5 Rekomendasi Ramen Viral di Bogor dengan Kuah Gurih Autentik Sampai Antri Panjang

Bogor, Kota Singgah yang Punya Cerita di Setiap Sudut

Jalan Sholeh Iskandar adalah salah satu urat nadi Bogor Barat. Lalu lintasnya padat, ritmenya cepat, dan jarang memberi ruang untuk berhenti lama. Namun justru di ruang seperti itulah, kuliner kaki lima menemukan momentumnya.

Gultik Mas Raden menjadi contoh bagaimana ruang kota yang keras bisa melahirkan pengalaman makan yang intim. Mangkuk kecil itu seperti jeda singkat lima menit yang terasa personal di tengah keramaian anonim.

Tidak ada yang memotret dengan kamera profesional. Kebanyakan hanya ponsel seadanya, atau bahkan tidak sama sekali. Pengalaman ini lebih sering disimpan sebagai ingatan, bukan konten.

Baca Juga: 5 Rekomendasi Ramen Viral di Bogor dengan Kuah Gurih Autentik Sampai Antri Panjang

Bukan Tentang Viral, Tapi Tentang Hadir di Waktu yang Tepat

Meski tergolong baru buka, Gultik Mas Raden tidak terlihat mengejar sensasi viral. Tidak ada spanduk besar atau klaim berlebihan. Orang datang karena melihat asap, mencium aroma, lalu penasaran.

Dalam dunia kuliner jalanan, pendekatan seperti ini sering kali lebih bertahan. Kepercayaan tumbuh pelan-pelan, dari satu mangkuk ke mangkuk berikutnya.

Bagi Bogor, tempat seperti ini menambah lapisan cerita kota. Ia tidak mengubah wajah kota secara besar-besaran, tapi memperkaya pengalaman warganya.

Baca Juga: 5 Warkop Viral di Bogor yang Selalu Ramai dari Pagi sampai Malam! No 4 Bikin Penasaran

Semangkuk Kecil yang Mengalahkan Riuh

Ketika mangkuk terakhir dikembalikan, suara kereta sudah menjauh. Jalanan tetap ramai. Tikungan itu kembali menjadi ruang lewat, bukan ruang singgah.

Namun bagi mereka yang sempat berhenti, Gultik Mas Raden meninggalkan kesan sederhana: bahwa di tengah bising dan terburu-buru, selalu ada ruang kecil untuk menikmati sesuatu yang hangat.

Bukan di restoran. Bukan di kafe. Tapi di pinggir rel, di tikungan jalan, di semangkuk gultik yang dimakan sambil berdiri—cukup untuk membuat perjalanan pulang terasa sedikit lebih manusiawi.

About Author

Dea

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *