Dulu Rp5.000, Sekarang Berapa? Perubahan Harga Kuliner di Puncak
Kabut pagi di Puncak dulu terasa berbeda. Jalanan masih lengang, warung-warung kayu berdiri seadanya, dan seorang ibu penjual jagung bakar bisa duduk santai sambil menunggu pembeli. Saat itu, sebatang jagung dibanderol lima ribu rupiah. Kadang malah ditambah bonus senyum dan obrolan ringan.
Bagi mereka yang pernah ke Puncak sepuluh atau lima belas tahun lalu, kenangan itu masih melekat. Makan murah, minum hangat, lalu pulang tanpa banyak hitung-hitungan. Hari ini, suasananya tak sepenuhnya hilang, tapi angkanya berubah.
Dan perubahan itu sering jadi bahan perbandingan.
Baca Juga: Dari Cungkring sampai Es Pala! 5 Rasa Kuliner Legendaris yang Bertahan di Bogor
Apa yang Dimaksud Perubahan Harga Kuliner di Puncak?
Perubahan harga kuliner di Puncak merujuk pada kenaikan bertahap harga makanan dan minuman yang dijual di kawasan wisata ini, terutama jajanan sederhana seperti jagung bakar, mi instan, dan minuman hangat.
Kenaikan ini tidak terjadi tiba-tiba. Ia berjalan pelan, mengikuti perubahan karakter Puncak dari kawasan rekreasi keluarga menjadi destinasi wisata massal dengan arus pengunjung tinggi.
Baca Juga: Liburan Nataru ke Puncak Tanpa Drama: Strategi Waktu dan Jalur yang Lebih Aman
Harga Kuliner Puncak Dulu: Murah dan Apa Adanya
Banyak wisatawan lama masih ingat kisaran harga berikut:
- Jagung bakar: Rp5.000 – Rp7.000
- Mi instan rebus: Rp6.000 – Rp8.000
- Teh manis hangat: Rp3.000 – Rp5.000
- Kopi sachet: Rp4.000 – Rp6.000
Warungnya sederhana. Bangkunya kayu panjang. Tidak ada menu tertulis, tidak ada lampu estetik, apalagi spot foto. Datang, pesan, makan, lalu jalan lagi.
Baca Juga: Kenapa Soto Mie Bogor Tak Pernah Kehilangan Penggemar? Kamu Wajib Tahu!
Harga Kuliner Puncak Sekarang: Realita Wisata
Hari ini, kisaran harga tersebut berubah cukup jauh:
- Jagung bakar: Rp15.000 – Rp25.000
- Mi instan rebus/telor: Rp15.000 – Rp25.000
- Teh manis hangat: Rp8.000 – Rp12.000
- Kopi sachet: Rp10.000 – Rp15.000
Bagi pengunjung baru, ini terasa wajar. Bagi pengunjung lama, ini sering memicu komentar: “Dulu enggak segini.”
Baca Juga: Anti Ramai, Anti Stres! Cara Merayakan Tahun Baru di Puncak Tanpa Terjebak Macet
Kenapa Harga Kuliner di Puncak Ikut Naik?
Kenaikan harga bukan semata-mata karena “wisata”.
Beberapa faktor utama yang memengaruhi perubahan ini:
- Lonjakan jumlah wisatawan dari Jabodetabek
- Biaya distribusi bahan makanan ke daerah pegunungan
- Kenaikan harga bahan pokok nasional
- Perubahan jam operasional warung yang lebih panjang
- Ekspektasi wisata modern (tempat bersih, terang, nyaman)
Puncak tidak lagi hanya tempat singgah. Ia menjadi tujuan.
Baca Juga: Sate Sumsum Bogor, Kuliner Langka yang Bikin Orang Rela Menunggu
Perubahan Pola Wisata Ikut Mengubah Harga
Dulu, orang datang ke Puncak untuk piknik singkat. Sekarang, banyak yang sengaja berhenti, nongkrong, bahkan membuat konten.
Warung yang dulu hanya melayani warga lokal, kini harus menyesuaikan diri dengan:
- Wisatawan urban
- Volume kendaraan tinggi
- Permintaan cepat dan terus-menerus
Harga pun ikut beradaptasi.
Baca Juga: Pertama Kali Makan Sate Sumsum Bogor, Ternyata Begini Rasanya, Penasaran?
Cerita Wisatawan Lama yang Kembali
Andi terakhir ke Puncak saat masih kuliah. Dua belas tahun kemudian, ia kembali bersama keluarganya. Ia berhenti di warung yang sama atau setidaknya di titik yang terasa sama.
Saat mendengar harga jagung bakar, ia tertawa kecil. Bukan marah. Bukan kecewa. Lebih ke arah sadar bahwa waktu memang berjalan.
“Tempatnya masih dingin,” katanya, “tapi zamannya sudah beda.”
Baca Juga: Kenapa Soto Mie Bogor Tak Pernah Kehilangan Penggemar? Kamu Wajib Tahu!
Apakah Semua Warung Mengalami Kenaikan yang Sama?
Tidak.
Perbedaan harga masih sangat terasa tergantung lokasi:
- Warung di jalan utama cenderung lebih mahal
- Area pemukiman lokal lebih terjangkau
- Titik dengan pemandangan langsung biasanya lebih tinggi
- Jam malam dan akhir pekan memengaruhi harga
Artinya, pengalaman “dulu murah” masih bisa ditemukan, meski tidak di semua tempat.\
Baca Juga: Sate Sumsum Bogor, Kuliner Langka yang Bikin Orang Rela Menunggu
Harga Naik, Tapi Kenangan Tetap Dicari
Menariknya, meski harga naik, jumlah pengunjung tidak turun drastis. Ini menunjukkan bahwa nilai Puncak tidak hanya terletak pada murahnya makanan.
Bagi banyak orang, kuliner di Puncak adalah penghubung kenangan. Dulu bersama teman, sekarang bersama keluarga. Dulu singkat, sekarang lebih lama.
Harga berubah, fungsi berubah, tapi ritual berhenti sejenak tetap sama.