3 March 2026
Kuliner

Dari Cungkring sampai Es Pala! 5 Rasa Kuliner Legendaris yang Bertahan di Bogor

Dari Cungkring sampai Es Pala! 5 Rasa Kuliner Legendaris yang Bertahan di Bogor

Bogor selalu punya dua wajah. Yang satu ramai, penuh kafe baru dan antrean panjang di akhir pekan. Yang lain berjalan lebih pelan. Ada di gang kecil, di sudut pasar, atau di gerobak yang hanya buka beberapa jam sehari. Di sanalah kuliner-kuliner lama bertahan tidak banyak berubah, tidak berisik, tapi terus dicari.

Pagi hari, ketika udara masih dingin dan kabut belum sepenuhnya hilang, beberapa penjual sudah lebih dulu membuka lapaknya. Siang menjelang sore, ada minuman segar yang setia menemani panas dan hujan yang datang bergantian. Semua terasa biasa, tapi justru di situlah keistimewaannya.

Bogor tidak kekurangan makanan enak. Tapi ada beberapa yang bertahan bukan karena tren, melainkan karena ingatan. Lima di antaranya ada di sini.

Cungkring Bogor

Webiste/Tagar.id
Nikmati kelegendarisan Cungkring Pak Jumat di Bogor: kikil sapi, lontong, bumbu kacang dan cita rasa otentik sejak 1975.

Cungkring biasanya muncul saat pagi masih muda. Potongan kikil dan bagian kepala sapi direbus hingga empuk, disajikan dengan lontong, lalu disiram saus kacang encer yang gurih. Aromanya kuat, tampilannya sederhana, tapi rasanya mengenyangkan.

Cungkring sering dianggap makanan “berat”, tapi justru itulah yang dicari banyak orang sebelum memulai hari. Satu piring cukup untuk menahan lapar hingga siang. Penjualnya pun jarang banyak bicara. Mereka bekerja cepat, seolah tahu pembelinya tidak ingin berlama-lama.

Di Bogor, cungkring bukan makanan untuk semua orang. Tapi bagi yang cocok, ia sulit digantikan.

Baca Juga: Anak Pulang Tidak Hanya Lelah, Tapi Juga Tahu Banyak Hal dari Water Kingdom Mekarsari

Sate Sumsum Bogor

Maps/Sate sumsum pak oo

Sate sumsum bukan kuliner yang mudah ditemukan. Bahkan di Bogor sendiri, jumlah penjualnya tidak banyak. Sumsum sapi dibakar perlahan, disajikan tanpa bumbu rumit. Teksturnya lembut, rasanya kaya, dan harus dimakan pelan.

Ini bukan makanan yang bisa disantap sambil terburu-buru. Sate sumsum mengajak orang berhenti sejenak, memperhatikan setiap gigitan. Ada rasa gurih alami yang tidak perlu ditutup saus berlebihan.

Bagi sebagian orang, sate sumsum adalah nostalgia. Bagi yang baru mencoba, ia sering jadi pengalaman pertama yang tak terlupakan.

Baca Juga: Datang Tanpa Rencana, Pulang dengan Cerita! Pengalaman Pertama ke Humaira Coffee Cafe Puncak

Pepes Sagu

Maps/Daniel Bogor

Pepes sagu bukan kuliner yang sering tampil di etalase. Ia lebih sering muncul di dapur rumah atau warung kecil. Sagu dibumbui rempah, dibungkus daun pisang, lalu dikukus hingga aromanya keluar perlahan.

Teksturnya kenyal, rasanya ringan, dan aromanya khas. Pepes sagu tidak mengenyangkan seperti makanan utama, tapi cukup untuk menemani waktu makan atau menjadi camilan sore.

Makanan ini mengingatkan pada masakan rumahan yang tidak dibuat untuk dipamerkan, hanya untuk dinikmati.

Baca Juga: Kuliner Viral di Bogor! Bacang Panas 102 Suryakencana yang Sedap dan Ramai

Roti Unyil Bogor

Maps/The Febrihakimins channel

Roti unyil mungkin salah satu kuliner Bogor yang paling sering dibawa pulang. Ukurannya kecil, sekali gigit, dengan berbagai isian. Dari cokelat, keju, hingga rasa yang lebih sederhana.

Banyak orang tidak benar-benar ingat rasa detailnya, tapi hampir semua ingat momennya. Dibeli sebelum pulang, dimakan di mobil, atau dibagikan ke rumah.

Roti unyil bukan soal rasa yang mengejutkan. Ia tentang kebiasaan. Tentang perjalanan ke Bogor yang rasanya belum lengkap tanpa membawa sekotak kecil ini.

Baca Juga: Cafe Date Romantis di Puncak! Ketika Kabut, Kopi Hangat, dan Perasaan Bertemu

Es Pala Bogor

Maps/Lince

Di antara makanan berat dan gurih, es pala Bogor hadir sebagai penyeimbang. Minuman dari buah pala ini punya rasa manis dan asam yang segar. Biasanya disajikan dingin, cocok diminum siang hari.

Es pala sering dianggap minuman sederhana. Tapi justru kesederhanaannya membuat ia bertahan. Rasanya tidak berubah banyak dari dulu, dan selalu terasa pas setelah makan.

Di Bogor, es pala bukan hanya pelepas dahaga. Ia bagian dari ritme kota yang sering basah oleh hujan.

About Author

Dea

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *