16 January 2026
Cafe

Ketika Dua Hati Butuh Istirahat, Humaira Coffe Menjadi Tempat yang Tepat

Ketika Dua Hati Butuh Istirahat, Humaira Coffe Menjadi Tempat yang Tepat

Mira menarik napas panjang saat mobil mereka berhenti di pinggir jalan Puncak. Udara Bogor yang sejuk masuk melalui jendela, membawa aroma tanah lembap yang hanya muncul setelah gerimis tipis. Di sampingnya, Raka mengusap wajahnya, lelah oleh tumpukan pekerjaan yang seolah tidak pernah berhenti.

“Kita masuk sini aja ya?” kata Mira sambil menunjuk bangunan kayu dengan papan sederhana bertuliskan Humaira Caffe Bogor Puncak. Dari luar, café itu terlihat tenang bukan tempat yang heboh, tapi hangat seperti rumah kecil di tengah dataran tinggi.

Raka mengangguk. “Kayaknya kita butuh banget tempat kayak gini.”

Mereka turun dari mobil dan untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, keduanya tidak terburu-buru.

Baca Juga: Di Balik Produktivitas Generasi Muda, Olu Signature Coffee Menjadi Ruang Fokus yang Dicari

Memasuki Ruang yang Mengundang untuk Beristirahat

Begitu melewati pintu kaca, aroma kopi baru diseduh langsung menyapa mereka. Interior kayunya terasa lembut, dengan lampu kuning hangat yang jatuh pelan di meja-meja kecil. Suaranya tidak bising hanya percikan gelas, desahan mesin espresso, dan percakapan pelan dari beberapa pengunjung.

Mira menatap sekeliling, lalu tersenyum. “Kok kayak rumah ya rasanya?”

Raka menatap wajah Mira yang tampak lebih rileks. “Setidaknya lebih tenang dari kantor.”

Mereka memilih duduk di area balkon luar. Dari sana, pemandangan bukit hijau tampak seperti lukisan yang hidup. Awan bergerak pelan, angin mengibaskan rambut Mira, dan suara gemericik air kecil dari kolam mini di sudut café membuat suasana menjadi lebih hening.

Seperti dunia yang menyuruh mereka berhenti sejenak.

Baca Juga: Di Balik Secangkir Kopi, Olu Signature Coffee Menyimpan Cerita tentang Perjalanan Rasa

Percakapan yang Mulai Mengalir Pelan

Saat kopi hangat dan pastry datang, Mira menyandarkan kepalanya di bahu Raka. “Aku kangen ketenangan kayak gini,” katanya lirih.

Raka tersenyum. “Aku juga. Kita kayaknya sibuk banget sampai lupa ngobrol yang bener.”

Mereka tertawa kecil. Ada kehangatan yang sudah lama tidak muncul, seolah hati mereka akhirnya menemukan ruang untuk bernapas. Tidak ada notifikasi ponsel, tidak ada email yang menunggu balasan, tidak ada target yang menekan. Hanya dua orang yang ingin mengingat alasan mereka selalu kembali satu sama lain.

Obrolan mereka bergulir pelan tentang rencana kecil, tentang film yang ingin ditonton, sampai hal-hal ringan yang tidak sempat mereka bicarakan beberapa bulan terakhir.

Baca Juga: Lebih dari Sekadar Kafe, Asimetri Kopi Menjadi Ruang Aman bagi Kreator dan Jiwa-Jiwa Sunyi

Suasana Cafe yang Membuat Waktu Tampak Melambat

Humaira Caffe bukan tempat dengan dekorasi heboh. Justru kesederhanaan yang terasa rapi membuatnya istimewa. Setiap sudut punya cerita kecil: rak buku kayu dengan beberapa novel lama, tanaman hijau yang tumbuh di pot tanah liat, kursi rotan yang mengeluarkan bunyi lembut setiap kali seseorang duduk.

Mira memperhatikan lampu gantung kecil di atas mereka. “Aku suka banget ambience gini,” katanya sambil menggerakkan jari di atas permukaan meja kayu.

Raka mengangguk. “Tempat kayak gini bikin orang pengin pelan.”

Dan memang, keduanya merasakan waktu bergerak lebih lambat. Bahkan hujan tipis yang turun beberapa menit kemudian justru membuat suasana makin intim. Tetes air di tepi balkon berkilau diterangi lampu, sementara aroma kopi bercampur bau hujan membuat kesegaran yang sulit dijelaskan.

Baca Juga: Mengapa Banyak Anak Muda Memilih Asimetri Kopi Sebagai Tempat Bekerja dan Belajar

Hal-hal Kecil yang Menyembuhkan dari Kesibukan

1. Desain kayu sederhana yang menenangkan

Tidak mewah, tapi memberi perasaan dekat dan hangat.

2. Pemandangan bukit yang langsung terlihat dari balkon

Memberi ruang visual untuk merilekskan pikiran.

3. Suara café yang hening

Cocok untuk pasangan yang ingin memperbaiki komunikasi.

4. Aroma kopi hangat yang menghidupkan suasana

Membuat obrolan mengalir tanpa kebisingan.

Baca Juga: Mengapa Banyak Anak Muda Memilih Asimetri Kopi Sebagai Tempat Bekerja dan Belajar

Kembali Mengingat Alasan Mereka Saling Memilih

Setelah hampir dua jam duduk di tempat yang sama, Mira dan Raka mulai berbicara tentang hal-hal yang lebih dalam—tentang lelahnya pekerjaan, tentang ketakutan yang jarang mereka akui, dan tentang bagaimana jarak emosional bisa muncul tanpa mereka sadari.

“Aku senang kita ke sini,” kata Mira. Suaranya pelan, tetapi penuh kejujuran.

Raka meraih tangannya. “Aku juga. Rasanya kayak kita mulai lagi.”

Hujan kembali turun, lebih deras namun tetap hangat. Mereka memesan minuman tambahan, hanya karena ingin duduk lebih lama.

Baca Juga: Tidak Hanya Kopi Menu Asimetri Kopi yang Diam-Diam Jadi Favorit Pelanggan

Pulang dengan Hati yang Lebih Penuh

Ketika hujan akhirnya reda, mereka bangkit dari kursi. Langkah mereka lebih ringan, wajah mereka lebih lega. Di luar café, aroma kopi dan hujan masih tertinggal di udara.

“Besok kita ke sini lagi?” tanya Mira sambil menggandeng lengan Raka.

“Besok mungkin nggak,” jawab Raka sambil tertawa, “tapi kita pasti balik lagi.”

Humaira Caffe bukan hanya tempat minum kopi. Bagi mereka, café kecil di Puncak itu menjadi ruang untuk memperlambat hidup ruang yang memungkinkan dua hati saling mendengar lagi.

Dan kadang, itu lebih dari cukup.

About Author

Dea

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *