Di Antara Pinus dan Kopi Hangat! Mengapa Banyak Orang Menemukan Kedamaian di Pancar Garden Sentul
Hari masih pagi ketika Nara keluar dari apartemennya di Kuningan. Mobil-mobil sudah membentuk antrean panjang, klakson bersahutan, dan angin panas dari mesin kendaraan menerpa wajah. Ia menatap langit yang mulai pudar, seolah semua warna cerah hilang tertutup tekanan hidup yang menempel setiap hari.
Semalam, ia menangis diam-diam setelah menyadari tubuh dan pikirannya sudah terlalu lelah. Pekerjaan menumpuk, tuntutan keluarga datang tak henti, dan kehidupan perkotaan yang dulu terasa menyenangkan kini berubah menjadi labirin tanpa pintu keluar.
Temannya pernah bilang, “Kalau capek sama kota, coba kabur sebentar ke Sentul. Ada tempat bagus buat ngaso: cafe pancar garden sentul.”
Tanpa banyak berpikir, Nara mengambil kunci mobil dan berangkat. Ia hanya tahu satu hal: ia tidak ingin hancur di tengah kota.
Menuju Sentul
Perjalanan menuju Sentul hanya sekitar satu jam, tapi rasanya seperti sedang menjauh beberapa hari dari rutinitas. Begitu keluar dari tol, udara berubah. Angin lebih dingin, lebih segar, lebih mudah dihirup.
Saat memasuki kawasan hutan pinus, jendela mobil ia buka sedikit. Aroma tanah basah dan wangi dedaunan membuatnya merinding. Ada keheningan yang tidak pernah ia temui di Jakarta keheningan yang tidak menakutkan, justru menenangkan.
Nara menghentikan mobilnya tepat di depan bangunan kayu sederhana dengan papan kecil bertuliskan Pancar Garden. Tidak mewah. Tidak ingin memukau. Tetapi justru itu yang membuatnya merasa diterima.
Baca Juga: Rahasia Warga Kota Hujan! Tempat Makan Khas Bogor Terkenal yang Selalu Mereka Datangi
Sesampainya di Kafe
Begitu masuk, Nara disambut cahaya matahari yang menembus atap kaca dan memantul lembut pada meja kayu. Beberapa pengunjung duduk dengan tenang, sebagian membaca, sebagian hanya menikmati minuman sambil memandangi hutan.
Tidak ada suara berlebihan. Tidak ada orang yang terlalu heboh. Tidak ada musik yang memaksa suasana. Yang ada hanyalah ritme alam dan percakapan kecil yang jauh lebih pelan daripada hiruk pikuk ibukota.
Ia mengambil tempat duduk di dekat jendela besar yang menghadap ke deretan pinus. Dari sudut itu, ia merasakan tubuhnya tiba-tiba lebih ringan, seolah tempat itu memang dirancang untuk orang-orang yang datang dengan beban masing-masing.
“Di sini kayak bukan dunia yang sama,” gumamnya pelan.
Baca Juga: Bakso Mas Joko Bogor Jadi Incaran Baru Pecinta Bakso Jumbo dan Kuah Gurih
Harga Menu Pancar Garden
Setelah melihat buku menu, Nara tersenyum. Ia terbiasa dengan harga kafe di Jakarta yang kadang membuat dompet bergetar. Tapi harga menu Pancar Garden terasa wajar, bahkan cukup ramah untuk ukuran tempat dengan pemandangan dan ketenangan seperti ini.
Minuman hangat berada di harga menengah, makanan ringan dan makanan berat punya pilihan yang masuk akal. Yang menarik, banyak orang datang bukan untuk makan besar, tapi untuk menikmati suasana, sehingga mengeluarkan sedikit uang pun terasa sepadan.
Nara memesan latte dan roti panggang. Ketika minumannya datang, ia menghirup pelan dan merasakan sensasi hangat yang ia butuhkan sejak lama. Rasanya bukan sekadar minuman, tetapi seperti pelukan untuk hati yang lelah.
Baca Juga: HOKIE HUB Bogor, Coffee Shop 24 Jam dengan Suasana Aesthetic dan WiFi Kencang
Lokasi Pancar Garden
Yang membuat tempat ini semakin dihargai adalah lokasi Pancar Garden yang cukup strategis. Tidak terlalu jauh dari Jakarta, tapi cukup jauh untuk memberikan sensasi “melarikan diri”.
Kawasan hutan pinus di sekitarnya membuat kafe terasa seperti berada di desa kecil yang tenang. Tidak ada suara mesin. Tidak ada hiruk pikuk kota. Hanya deru angin dan suara langkah di atas lantai kayu.
Bagi Nara, ini adalah kombinasi sempurna tempat yang bisa ia datangi spontan tanpa perlu merencanakan liburan panjang, namun cukup kuat untuk membuat pikirannya pulih.
Baca Juga: Ramai Turis, Rasa Otentik! Bakso Mas Joko Mantapkan Diri sebagai Ikon Kuliner Bogor
Jam Buka Pancar Garden Memberi Kesempatan untuk Menepi di Waktu yang Tepat
Ketika melihat papan informasi, Nara melihat jam buka Pancar Garden yang cukup panjang membuat pengunjung bisa memilih kapan mereka ingin datang.
Pagi hari memberikan suasana paling hening.
Siang menawarkan kehangatan yang nyaman.
Sore menghadirkan cahaya keemasan yang cocok untuk merenung.
Malam membawa ketenangan lebih dalam, ditemani lampu-lampu kecil yang temaram.
Waktu operasional ini sangat cocok bagi orang yang mencari pelarian spontan entah setelah lembur semalam, sebelum memulai minggu baru, atau saat ingin jeda tanpa alasan tertentu.
Baca Juga: Ramai Turis, Rasa Otentik! Bakso Mas Joko Mantapkan Diri sebagai Ikon Kuliner Bogor
Mengapa Banyak Orang Menjadikannya Pelarian?
Nara memperhatikan sekelilingnya. Ada seorang pria dengan ransel kecil yang duduk sambil menatap hutan. Ada ibu muda yang sedang menenangkan dirinya sambil menyeruput teh. Ada sepasang sahabat yang tidak banyak bicara, tetapi tampak nyaman dalam diam.
Kafe ini seperti menyatukan orang-orang yang sedang berjuang diam-diam.
Ada beberapa alasan mengapa tempat ini cocok sebagai pelarian mini:
1. Suasana Tenang yang Tidak Dibuat-Buat
Bukan kafe yang memaksa nuansa “healing”. Ia memang tenang dari sananya.
2. Alam yang Mendekatkan Kita pada Diri Sendiri
Melihat pohon bergerak pelan membuat beban pikiran terasa ikut terbawa angin.
3. Harga Menu yang Masuk Akal untuk Duduk Lama
Tidak ada rasa bersalah ketika memilih duduk berjam-jam di sana.
4. Lokasi yang Mudah Dijangkau
Perjalanan singkat, tetapi efeknya panjang.
5. Jam Buka yang Fleksibel
Bisa datang saat pagi penat, siang jenuh, atau malam penuh pikiran.