17 January 2026
Kuliner

Rahasia Warga Kota Hujan! Tempat Makan Khas Bogor Terkenal yang Selalu Mereka Datangi

Rahasia Warga Kota Hujan! Tempat Makan Khas Bogor Terkenal yang Selalu Mereka Datangi

Bagi Fadhil, lahir dan besar di Bogor membuatnya punya hubungan emosional dengan setiap gang, setiap tikungan, dan setiap aroma masakan yang muncul dari jendela rumah-rumah tua. Saat sahabat lamanya Tara datang dari Bandung untuk “liburan kuliner sehari,” ia tahu persis apa yang harus dilakukan.

“Kalau mau makan yang benar-benar Bogor, ikut aku saja. Jangan percaya rekomendasi internet dulu,” katanya sambil tertawa kecil.

Sore itu, langit kota masih berwarna kelabu. Awan rendah bergantung di atas pohon-pohon besar, dan udara basah mulai merayap ke jaket Tara. Namun, justru suasana seperti inilah yang membuat perjalanan ini terasa hangat.

Mereka berdua memulai petualangan kecil menyusuri tempat makan khas Bogor terkenal, bukan sekadar untuk mengenyangkan perut, tetapi untuk memperlihatkan sisi kota yang jarang dilihat turis sehari.

Baca Juga: Cari Tempat WFC di Bogor? Temu Degayu Hadir Dengan Suasana Tenang dan Banyak Colokan

1. Soto Kuning Pak Salam

Destinasi pertama selalu sama bagi Fadhil Soto Kuning Pak Salam. Baginya, ini adalah hidangan paling aman namun paling mengesankan untuk diperkenalkan pada tamu.

Mereka tiba di warung kecil itu ketika aroma bawang putih dan kaldu panas menyeruak dari dapur. Pengunjung duduk rapat-rapat, sebagian berdiri sambil menunggu meja kosong. Tara memandang semangkuk soto yang baru datang: kuah kuning bening, potongan daging tebal, dan taburan bawang goreng yang menggoda.

Begitu mencicipi suapan pertama, ia menatap Fadhil dengan mata berbinar.
“Ini… ringan tapi mantap! Kayak menghangatkan dari dalam.”

Fadhil hanya tersenyum. “Nah, itu baru pembuka.”

Baca Juga: Bukan Sekadar Cafe, KOBA Bogor Jadi Ruang Serbaguna untuk Meeting dan Acara Kecil

2. Asinan Lawang

Selanjutnya mereka menuju asinan yang sering jadi bahan perdebatan Asinan Lawang. Beberapa orang menganggap ini yang terbaik, sementara lainnya setia pada toko berbeda. Tapi bagi Fadhil, yang terpenting adalah menunjukkan variasi rasa.

Potongan sayur segar disiram kuah pedas-asam yang wangi, kacang ditabur banyak hingga tampak seperti hujan renyah di atas mangkuk. Tara mencicipinya perlahan, lalu mengerjap.

“Segar banget! Kayak nyetrum.”

Bagi warga lokal, asinan memang bukan sekadar cemilan. Ini adalah jeda, semacam penyegar pikiran di tengah cuaca Bogor yang lembap. Rasanya bisa membangkitkan kembali tenaga untuk melanjutkan perjalanan yang lebih panjang.

Baca Juga: Bukan Cuma Kopi, KOBA Coffeeshop Bogor Punya Comfort Food yang Bikin Ketagihan

3. Rumah Makan Sunda Sindang Reret

Saat hari mulai menggelap, Fadhil mengajak Tara ke tempat yang ia sebut sebagai “ruang makan resmi”-nya: Sindang Reret.

Baginya, rumah makan Sunda ini adalah representasi ideal dari kuliner Sunda: lembut dalam rasa, kuat dalam aroma, dan sederhana dalam penyajian.

Mereka memesan pepes ikan mas, sayur asem, sambal dadak, serta tempe kemul. Tara memperhatikan bagaimana pelayan mengulek sambal di meja, membuat aroma cabai segar menyebar cepat.

“Ini kayak masakan ibu-ibu di kampung, ya?” katanya.
“Betul. Makanya aku selalu bawa orang penting ke sini.”

Di tempat ini, orang memang makan dengan ritme yang lebih pelan. Rasanya seperti kembali ke percakapan tenang di rumah keluarga.

Baca Juga: Ramai Turis, Rasa Otentik! Bakso Mas Joko Mantapkan Diri sebagai Ikon Kuliner Bogor

4. Sate Sumsum dan Ginjal

Setelah makan dengan damai, Fadhil memutuskan untuk mengetes keberanian Tara. Ia membawanya ke pusat kuliner malam di Jalan Suryakencana, tempat sate sumsum tersohor dijajakan di tepi jalan.

Sate-sate itu dibakar pelan di atas arang, memunculkan aroma smokey yang langsung menempel di udara malam. Tara menatap sebatang sate sumsum dengan ragu.

“Ini… serius dimakan?”
“Serius. Dan enak banget.”

Teksturnya lembut, hampir meleleh saat digigit, namun memiliki rasa gurih yang mengejutkan. Tara akhirnya mengakui, “Oke, ini unik. Tapi bakal aku ceritain ke semua orang.”

Untuk warga Bogor, sate sumsum bukan hanya makanan ini semacam tradisi kecil bagi mereka yang ingin mencoba sesuatu yang beda.

Baca Juga: Temu Degayu! Hidden Gem Aesthetic di Tengah Perumahan Bogor yang Lagi Naik Daun 2025

5. Ayam Geprek Joglo

Perjalanan mereka berlanjut ke tempat yang lebih modern. Ayam Geprek Joglo adalah tempat makan yang banyak didatangi anak muda Bogor. Meski bukan makanan khas tradisional, suasananya yang hangat, ramainya obrolan, dan sambalnya yang pedas membuatnya selalu penuh.

Tara terkejut melihat betapa cepat pengunjung berganti. “Ini kayak basecamp anak muda Bogor ya?”
Fadhil mengangguk. “Kalau mau tahu energi kota ini, datang saja ke sini malam-malam.”

Bagi banyak warga, tempat modern seperti ini melengkapi pengalaman kuliner kota kontras tetapi tetap mencerminkan dinamika anak mudanya.

About Author

Dea

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *