Jalan Alternatif Puncak Tidak Selalu Menolong, Kalau Waktunya Salah

Jam menunjukkan pukul 18.40 ketika mobil mulai melambat. Belum benar-benar macet, tapi jarak antar kendaraan sudah rapat. Di depan, tanjakan Puncak terlihat seperti antrean panjang yang sedang menunggu giliran bernapas. “Masih oke nggak ya?” tanya seseorang dari kursi belakang. Pertanyaan itu sering terdengar

Tidak Harus ke Puncak Utama, Ini Alternatif Liburan Nataru yang Lebih Tenang

Pagi itu, kabut masih menggantung rendah ketika sebuah mobil berbelok menjauh dari jalur utama Puncak. Di spion, antrean kendaraan terlihat memanjang, nyaris tak bergerak. Di depan, jalan justru terasa lapang. Tidak ada klakson. Tidak ada pedagang asongan. Hanya suara ban menyentuh aspal basah.