Bogor di Malam Terakhir Tahun: Antara Lampu Kota, Doa, dan Macet yang Tak Pernah Sepi

Hujan turun pelan di Jalan Pajajaran, tidak deras, tapi cukup membuat lampu kendaraan memantul panjang di aspal. Jam baru menunjukkan pukul delapan malam, tapi lalu lintas sudah padat sejak sore. Klakson terdengar bersahut-sahutan bukan marah, lebih seperti lelah. Di trotoar, penjual jagung bakar

Liburan Natal dan Macet Puncak! Antara Tradisi Wisata dan Krisis Jalan

Setiap liburan Natal, arus lalu lintas menuju Puncak, Bogor, nyaris selalu padat hingga macet total. Meski sudah diprediksi, kondisi ini terus berulang dari tahun ke tahun karena persoalan struktural, bukan sekadar lonjakan wisata musiman. Macet di kawasan Puncak saat liburan Natal bukan kejutan.

Bawa Anak ke Puncak Saat Tahun Baru? Tidak Semua Jalan Alternatif Layak Dilewati

Anak itu sudah mulai gelisah sejak sepuluh menit lalu. Bukan karena lapar, tapi karena tubuhnya kelelahan. Mobil tidak bergerak. Lampu rem di depan menyala terus. Di kiri-kanan, klakson mulai terdengar bukan sebagai peringatan, tapi sebagai pelampiasan emosi. “Kalau kita belok ke jalan kecil

Jalan Alternatif Puncak Tidak Selalu Menolong, Kalau Waktunya Salah

Jam menunjukkan pukul 18.40 ketika mobil mulai melambat. Belum benar-benar macet, tapi jarak antar kendaraan sudah rapat. Di depan, tanjakan Puncak terlihat seperti antrean panjang yang sedang menunggu giliran bernapas. “Masih oke nggak ya?” tanya seseorang dari kursi belakang. Pertanyaan itu sering terdengar

Jalan Kecil Bukan Jaminan! Kesalahan Umum Cari Jalan Alternatif Puncak Saat Tahun Baru

Belokan itu terlihat menjanjikan. Jalannya kecil, sepi, dan tidak ada antrean panjang seperti di depan. Aplikasi navigasi di ponsel langsung memberi sinyal hijau hemat 18 menit. Tanpa banyak berpikir, Andra membelokkan setir. Lima menit pertama terasa seperti kemenangan kecil. Mobil bergerak. Tidak ada

Jalan Alternatif Puncak Saat Tahun Baru: Pilihan Waras Saat Jalur Utama Lumpuh

Jam di dashboard mobil menunjukkan pukul 21.12. Tapi jarum bensin bergerak lebih cepat daripada kendaraan di depan. Lampu rem memanjang, klakson mulai terdengar tak sabar, dan notifikasi ponsel berdatangan—semuanya bertanya hal yang sama: “Masih macet?” Rudi menarik napas panjang. Ia sudah sering ke

Bukan Pesta, Bukan Terompet! Rekomendasi Spot Tahun Baru Tenang di Puncak

Kabut turun lebih cepat malam itu. Jam di dashboard mobil menunjukkan pukul 22.15, tapi suara yang terdengar hanya mesin idle dan desir angin dari balik jendela. Tidak ada terompet. Tidak ada hitungan mundur. Hanya lampu-lampu vila di kejauhan yang menyala seperti titik-titik kecil,

Harga Makanan di Puncak Bikin Kaget? Pengalaman Wisatawan Pertama Kali

Kabut sore turun cepat di jalur Puncak. Mobil melambat, klakson bersahutan, dan hawa dingin mulai terasa menembus jaket tipis. Raka, yang baru pertama kali ke Puncak, menurunkan kaca jendela. Bau arang dan jagung manis langsung menyergap hidungnya. “Berhenti sebentar, yuk,” kata temannya. Mereka

Berapa Harga Jagung Bakar dan Kuliner Lain di Puncak? Ini Gambaran Biayanya

Kabut turun perlahan di tepi jalan Raya Puncak. Di sebuah warung kayu sederhana, asap tipis dari tungku arang naik bersamaan dengan aroma jagung bakar yang manis dan gosong di ujungnya. Seorang bapak paruh baya membolak-balik jagung dengan tangan cekatan, sementara dua motor berhenti

Liburan Nataru di Puncak Tanpa Agenda Padat, Tapi Justru Lebih Berarti

Pagi di Puncak selalu datang tanpa terburu-buru. Kabut turun perlahan, menutup pucuk pohon teh seperti tirai tipis. Di teras sebuah penginapan kecil, secangkir kopi dibiarkan mendingin. Tidak ada alarm. Tidak ada jadwal keluar rumah. Hanya suara burung dan langkah kaki yang sengaja diperlambat.