Kenapa Soto Mie Bogor Tak Pernah Kehilangan Penggemar? Kamu Wajib Tahu!

Hujan turun sejak siang di Bogor. Aspal mengilap, payung terbuka di mana-mana, dan langkah kaki melambat. Di pinggir jalan, sebuah gerobak berhenti. Tutup panci dibuka sedikit, uap panas mengepul, membawa aroma kaldu yang langsung mengundang perhatian. Seseorang mendekat, memesan satu mangkuk soto mie.

5 Kuliner Bogor yang Selalu Dicari Saat Hujan Turun Perlahan! Dijamin Ngiler

Hujan turun pelan di Bogor sore itu. Jalanan basah memantulkan lampu motor, udara terasa lembap, dan aroma tanah yang baru tersiram hujan muncul samar-samar. Di sudut jalan, seorang penjual mendorong gerobak kecilnya, uap tipis mengepul dari panci. Beberapa orang berhenti, sebagian lagi berteduh

Humaira Coffee Cafe Viral di Puncak dan Perubahan Tubuh Orang Kota yang Tidak Disadari

Begitu duduk, bahu itu turun. Tidak langsung, tapi pelan. Napas yang tadinya pendek mulai memanjang. Pandangan yang semula bergerak cepat, berhenti pada satu titik: kabut yang menggantung di antara pepohonan. Banyak pengunjung Humaira Coffee Cafe tidak sadar kapan perubahan itu terjadi. Mereka hanya

Humaira Coffee Cafe: Ruang Netral di Puncak untuk Orang yang Lelah Menjadi Apa-Apa

Ia datang sendirian. Tidak membawa laptop, tidak membuka ponsel. Jaketnya masih terpakai, meski kopi sudah tersaji. Ia duduk menghadap kabut, punggung sedikit condong ke depan, seperti orang yang baru saja melepaskan beban panjang. Tidak ada yang bertanya ia siapa. Tidak ada yang peduli

Humaira Coffee Cafe Viral di Puncak: Ketika Bisnis Tenang Mengalahkan Strategi Ramai

Tidak ada spanduk besar. Tidak ada promo berisik. Bahkan tidak ada ajakan berfoto di setiap sudut. Jika datang tanpa tahu apa-apa, Humaira Coffee Cafe bisa terlihat seperti kafe biasa di Puncak. Namun justru dari kesenyapan itulah antrean pelan-pelan terbentuk. Di era ketika banyak

Datang Tanpa Rencana, Pulang dengan Cerita! Pengalaman Pertama ke Humaira Coffee Cafe Puncak

Saya tidak merencanakan kunjungan ke Humaira Coffee Cafe. Pagi itu, Puncak sudah terlalu padat untuk disebut liburan. Mobil bergerak pelan, udara dingin bercampur aroma knalpot, dan obrolan di dalam kabin mulai habis topik. Seorang teman menunjuk ke sebuah papan kecil di pinggir jalan.

Humaira Coffee Cafe Viral di Puncak, Pilihan Singgah Tenang di Tengah Wisata Padat

Mesin mobil dimatikan pelan. Setelah hampir dua jam merayap di jalan Puncak yang padat, seorang pengunjung turun dengan napas panjang. Ia tidak masuk ke tempat wisata, tidak membeli tiket, tidak mengejar wahana. Ia hanya berjalan beberapa langkah, duduk, lalu memesan kopi. Di depannya,

Kenapa Orang Bisa Duduk Lama di Humaira Coffee Cafe Puncak Tanpa Bosan? Berikut Ini Jawabannya

Seorang pengunjung duduk hampir satu setengah jam di Humaira Coffee Cafe tanpa membuka ponsel. Kopinya sudah lama dingin. Ia tidak berbincang, tidak bekerja, bahkan tidak memotret. Namun ia tidak terlihat bosan. Sesekali matanya bergerak mengikuti kabut yang turun, lalu kembali diam. Banyak orang

Saat Ngopi Jadi Alasan Berhenti Sejenak! Kisah Humaira Coffee Cafe Viral di Puncak

Kabut turun perlahan di Puncak pagi itu. Tidak tebal, hanya cukup untuk membuat pepohonan terlihat samar. Seorang pengunjung duduk sendiri di sudut kayu Humaira Coffee Cafe. Tangannya memeluk cangkir kopi, matanya tidak menatap layar. Tidak ada percakapan keras, tidak ada musik menghentak. Hanya

Humaira Coffee Cafe Viral di Puncak, Dari Kedai Sunyi Jadi Destinasi Wajib Akhir Pekan

Pagi di kawasan Puncak selalu punya ritmenya sendiri. Udara dingin menggigit pelan, kabut turun perlahan, dan aroma tanah basah bercampur wangi kopi panas dari gelas-gelas kecil di tangan pengunjung. Di salah satu sudut jalan yang tak terlalu mencolok, Humaira Coffee Cafe perlahan ramai.