Saat Kota Bersorak, Mereka Tetap Berdiri: Kisah Malam Tahun Baru di Tugu Kujang Bogor
Peluit itu berbunyi lebih sering dari biasanya. Pendek, tegas, lalu disusul gerakan tangan yang meminta kendaraan berhenti atau jalan. Di tengah kerumunan orang yang sibuk mencari sudut terbaik untuk menunggu kembang api, seorang petugas lalu lintas berdiri tanpa ekspresi berlebihan.
Jam di ponsel orang-orang sudah mendekati tengah malam.
Baginya, waktu diukur dengan hal lain arus kendaraan, celah kemacetan, dan kemungkinan kekacauan kecil yang harus dicegah.
Di sekitar Tugu Kujang, malam Tahun Baru selalu terlihat seperti pesta. Tapi dari jarak sedekat ini, ada wajah kota yang jarang diperhatikan.
Baca Juga: Saat Terompet Tak Lagi Penting: Cara Warga Bogor Menyambut Tahun Baru dengan Sunyi
Kota yang Ramai, Tugas yang Tidak Bisa Menunggu
Sejak sore, petugas sudah berjaga. Jalanan mulai padat, klakson bersahutan, dan orang-orang datang dengan rencana sederhana: menunggu pergantian tahun di ruang publik.
Bagi pekerja malam, rencana itu tidak ada.
“Kalau malam begini, pulang tergantung situasi,” ujar seorang petugas singkat, matanya tak lepas dari persimpangan.
Ia tahu, begitu satu titik macet, dampaknya bisa menjalar. Tahun Baru bukan hanya soal perayaan, tapi juga ujian kesabaran kota.
Baca Juga: Harga-Harga di Bogor Saat Tahun Baru: Dari Seporsi Soto hingga Tarif Hotel yang Melonjak
Pedagang yang Merayakan dengan Cara Berbeda
Beberapa meter dari situ, seorang pedagang kopi keliling menuang air panas ke gelas plastik. Tangannya bergerak cepat. Malam ini, ia jarang duduk.
“Tahun Baru rame, tapi capeknya juga dobel,” katanya sambil tersenyum tipis.
Ia tidak menunggu kembang api. Ia menunggu antrean berikutnya.
Pembelinya datang silih berganti: pasangan muda yang kedinginan, pengendara motor yang lelah, bahkan petugas yang mencuri waktu istirahat sebentar. Di tengah hiruk-pikuk, kopi hangat menjadi jeda kecil yang berarti.
Baca Juga: Makan Malam Romantis Tahun Baru di Bogor Saat Satu Meja Lebih Penting dari Kembang Api
Tukang Parkir dan Negosiasi Tanpa Suara
Di sudut yang tidak terlalu terang, tukang parkir mengatur kendaraan yang berhenti seadanya. Ia harus cepat membaca situasi mana yang bisa ditoleransi, mana yang harus ditegur.
Tidak semua orang sabar di malam Tahun Baru.
Tidak semua orang mau diatur.
Tapi ia tetap berdiri di situ, berjam-jam, karena ia tahu satu hal: tanpa keteraturan kecil, keramaian bisa berubah jadi kekacauan.
Baca Juga: Berjalan Malam Tahun Baru di Bogor! Romantis yang Datang dari Langkah Pelan
Detik Nol yang Tidak Dirayakan
Ketika hitung mundur akhirnya terdengar tidak serempak, tapi cukup keras kembang api meledak di langit Bogor. Sorak-sorai pecah. Pelukan terjadi di banyak sudut.
Para pekerja malam tetap di posisinya.
Beberapa melirik langit sebentar. Yang lain bahkan tidak sempat menoleh. Tidak ada hitungan bersama, tidak ada video kenangan. Pergantian tahun lewat begitu saja, seperti pergantian jam kerja yang tidak pernah benar-benar berhenti.
Baca Juga: Tahun Baru Berdua di Bogor Tanpa Rencana Besar, Pulang Lebih Awal Justru Terasa Romantis
Setelah Keramaian Pergi
Sekitar satu jam setelah tengah malam, kerumunan mulai menipis. Jalanan masih ramai, tapi napas kota perlahan melonggar.
Di saat itulah pekerjaan lain dimulai.
Petugas kebersihan menyapu sisa perayaan: kertas kembang api, botol minuman, plastik kecil yang tertinggal. Tidak ada musik. Tidak ada sorotan. Hanya suara sapu dan langkah pelan.
Pagi Bogor bergantung pada kerja sunyi mereka.
Tahun Baru yang Tidak Masuk Foto
Perayaan Tahun Baru di Tugu Kujang selalu meninggalkan banyak gambar: kembang api, kerumunan, tawa. Tapi jarang ada foto tentang orang-orang yang memastikan semua itu bisa terjadi tanpa insiden.
Mereka tidak ikut hitung mundur.
Tidak mengunggah momen.
Tidak merayakan dengan cara yang sama.
Namun tanpa mereka, kota tidak akan pernah benar-benar siap menyambut hari pertama di tahun yang baru.