16 January 2026
Lifestyle

Ketika Tahun Baru di Bogor Bukan Liburan, Tapi Hari Paling Melelahkan bagi Warganya

Ketika Tahun Baru di Bogor Bukan Liburan, Tapi Hari Paling Melelahkan bagi Warganya

Pukul tujuh pagi, Bu Rina sudah berdiri di depan warung kecilnya di pinggir Jalan Soleh Iskandar. Hujan semalam menyisakan aspal basah dan udara dingin yang menggigit. Ia membuka rolling door perlahan, menata galon air, dan menyiapkan termos kopi. Tahun Baru bagi banyak orang berarti tidur lebih lama. Bagi Bu Rina, itu justru tanda hari akan berjalan lebih panjang dari biasanya.

“Kalau Tahun Baru mah, enggak bisa santai,” katanya pelan. “Orang luar banyak, tapi capeknya juga dobel.”

Bogor selalu punya dua wajah setiap pergantian tahun. Di media sosial, kota ini tampil sebagai tempat pelarian: sejuk, hijau, penuh kuliner. Tapi di balik unggahan kembang api dan hotel penuh, ada warga lokal yang menjalani hari tanpa libur, tanpa euforia, dan tanpa banyak pilihan.

Baca Juga: Salah Jam Berangkat, Salah Nasib! Pola Macet Tahun Baru Bogor–Puncak yang Terus Berulang

Kota yang Dipenuhi Pendatang, Rumah yang Ditinggali dengan Hati-hati

Sejak siang, arus kendaraan dari arah tol Jagorawi mulai mengular. Warga Bogor sudah hafal polanya. Jalanan utama berubah menjadi lautan plat B, suara klakson menggantikan kicau burung, dan perjalanan lima belas menit bisa berubah jadi satu jam.

Bagi warga, Tahun Baru bukan soal ikut merayakan, tapi soal menghindari keluar rumah.

“Kalau enggak penting-penting amat, mending di rumah,” kata Pak Andi, pengemudi ojek pangkalan di kawasan Empang. Ia tetap mangkal, tapi dengan strategi bertahan. Tidak berkeliling, tidak mengejar order terlalu jauh. “Capek di jalan, macetnya bikin emosi.”

Ironisnya, saat kota ramai dan harga-harga naik, pengeluaran warga justru ikut terdorong, sementara pemasukan tidak selalu mengikuti.

Baca Juga: Bogor di Malam Terakhir Tahun: Antara Lampu Kota, Doa, dan Macet yang Tak Pernah Sepi

Harga Naik, Tapi Warga Tidak Ikut Berpesta

Bagi wisatawan, kenaikan harga sering dianggap konsekuensi liburan. Bagi warga lokal, itu adalah beban tambahan.

Bu Rina mengaku harus membeli bahan dagangan dengan harga lebih tinggi sejak dua hari sebelum Tahun Baru. Telur, gula, dan gas melon mengalami kenaikan kecil tapi konsisten. Ia sempat menaikkan harga minuman seribu rupiah, tapi tak berani lebih.

“Kalau mahal-mahal, yang beli siapa? Warga sini juga,” katanya.

Di sinilah perbedaannya terasa. Warga Bogor adalah konsumen di kota sendiri, tapi pada momen liburan, mereka sering kalah posisi dengan wisatawan yang siap membayar lebih.

Warung makan langganan yang biasa ramah kantong mendadak terasa mahal. Parkir naik. Ojek online menerapkan tarif dinamis. Bahkan harga sayur di pasar pagi ikut terdampak karena distribusi terganggu macet.

Baca Juga: Bogor di Malam Terakhir Tahun: Antara Lampu Kota, Doa, dan Macet yang Tak Pernah Sepi

Bekerja Lebih Lama, Pulang Lebih Larut

Bagi sebagian warga, Tahun Baru justru berarti jam kerja yang memanjang. Petugas parkir, pedagang kaki lima, penjaga toko, hingga satpam perumahan menghadapi lonjakan aktivitas.

Pak Dedi, petugas parkir tidak resmi di dekat pusat kuliner, mulai bekerja sejak sore hingga lewat tengah malam. “Kalau rame, capeknya bukan main,” ujarnya. Penghasilan memang bisa naik, tapi tidak selalu sebanding dengan risiko dan kelelahan.

Belum lagi hujan yang hampir selalu datang di malam pergantian tahun. Basah, dingin, dan tetap harus tersenyum menghadapi pengunjung yang ingin cepat dilayani.

“Orang senang-senang, kita ya kerja,” katanya singkat, tanpa nada mengeluh, tapi juga tanpa euforia.

Baca Juga: Tahun Baru di Bogor untuk Keluarga! Aman, Tidak Ribet, dan Tetap Berkesan

Warga yang Memilih Menutup Pintu

Tidak semua warga ikut bergerak. Banyak yang justru memilih mengunci rumah lebih rapat, menyiapkan makanan dari siang, dan menghindari keramaian.

Di sebuah gang kecil dekat Kebun Raya, lampu rumah menyala lebih awal. Ibu-ibu memasak sederhana, anak-anak bermain di dalam. Tidak ada rencana keluar malam.

“Bukan enggak mau, tapi capek duluan,” kata seorang ibu rumah tangga. Macet, harga mahal, dan keramaian membuat Tahun Baru kehilangan makna bagi mereka.

Bagi warga, pergantian tahun sering kali hanya ditandai dengan suara kembang api dari kejauhan dan doa singkat sebelum tidur.

Baca Juga: Alternatif Tahun Baru di Bogor Selain Puncak! 7 Pilihan yang Lebih Tenang dan Manusiawi

Kota Wisata yang Hidup dari Ketimpangan Waktu

Bogor hidup dari pariwisata, tapi tidak semua warganya menikmati hasilnya secara merata. Ada jarak antara yang datang untuk berlibur dan yang tinggal untuk bertahan.

Tahun Baru memperjelas jarak itu. Wisatawan datang membawa uang, waktu, dan ekspektasi. Warga lokal menghadapi kemacetan, kenaikan harga, dan tekanan kerja.

Namun di sisi lain, banyak warga juga sadar: tanpa keramaian ini, ekonomi kota akan lebih lesu. Warung kecil tetap butuh pembeli. Pedagang tetap butuh momen ramai.

Kontradiksi ini diterima dengan sikap pragmatis. Tidak sepenuhnya mengeluh, tapi juga tidak ikut merayakan.

Anak-anak Bogor dan Tahun Baru yang Berbeda

Bagi anak-anak warga lokal, Tahun Baru jarang berarti hotel atau wisata. Lebih sering berarti begadang sebentar, melihat kembang api dari balik pagar, lalu tidur dengan suara klakson sebagai latar.

“Besok sekolah lagi,” kata seorang anak sambil tertawa kecil.

Tidak ada pesta besar, tapi ada rasa aman karena berada di rumah sendiri. Di kota yang penuh orang asing sementara, rumah menjadi satu-satunya ruang yang benar-benar milik mereka.

Baca Juga: Bogor di Malam Terakhir Tahun: Antara Lampu Kota, Doa, dan Macet yang Tak Pernah Sepi

Setelah Tengah Malam, Kota Perlahan Dikembalikan

Sekitar pukul satu dini hari, arus kendaraan mulai surut. Sampah berserakan, jalanan basah, dan petugas kebersihan mulai bekerja. Warga yang sejak sore menahan diri akhirnya bisa keluar sebentar membeli rokok, mengambil air galon, atau sekadar menghirup udara yang kembali sunyi.

Besok paginya, Bogor masih ramai, tapi nadanya berubah. Wisatawan bersiap pulang. Harga perlahan normal. Jalanan kembali bisa ditebak.

Bagi warga, Tahun Baru selesai tanpa seremoni.

About Author

Dea

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *