Rahasia Dapur Pontianak! Filosofi Rasa yang Membuat Masakan Shahnaz Punya ‘Jejak’ di Lidah
Setiap daerah punya rahasia dapurnya sendiri. Di Pontianak, rahasia itu bukan hanya soal bumbu, tetapi cara memperlakukan wajan, api, dan aroma bawang. Ketika seseorang datang ke dapur shahnaz kopitiam, mereka mungkin tak langsung tahu rahasia itu. Tapi mereka merasakannya dari gigitan pertama pada kwetiau, dari aroma tumisan yang keluar dari dapur terbuka, dari pedas lada hitam yang hangat, bukan menyiksa.
Dan rahasia itu disimpan oleh seorang perempuan bernama Shahnaz Khassani Bogor.
Baca Juga: Di Balik Segelas Kopi Enak di Bogor! Ritual Pagi Para Barista Klan Cafe
Rasa Tidak Dibuat, Tapi Ditumbuhkan
Ketika Shahnaz memasak, ada sesuatu yang berbeda. Ia tidak mengandalkan takaran sendok, tidak juga menghitung jumlah bawang satu per satu. Ia memasak dengan ritme yang seperti sudah ditulis dalam tubuhnya sejak lama.
“Rasa tidak dibuat,” katanya suatu sore, sambil mengaduk tumisan,
“Rasa itu ditumbuhkan.”
Baginya, apa yang membuat masakan Pontianak begitu khas bukan sekadar penggunaan kecap atau bawang, tetapi cara mengolahnya hingga meninggalkan “jejak” di lidah jejak yang tetap terasa bahkan setelah seseorang selesai makan.
Di sinilah filosofi masaknya dimulai.
Baca Juga: Ruang Cerita di Klan Cafe Bogor! Tempat Nongkrong yang Merawat Perjumpaan
Bawang Sebagai Nafas Masakan
Pontianak punya hubungan panjang dengan bawang putih.
Bukan sekadar bumbu dasar, tetapi fondasi rasa.
Di kedai kecil ini, bawang:
- ditumbuk, bukan diblender,
- ditumis pelan hingga sedikit kecokelatan,
- dan dibiarkan mengeluarkan aroma manis gurihnya secara alami.
Proses ini sederhana, tetapi justru yang membuat makanan Pontianak Bogor versi Shahnaz terasa hidup.
Bawangnya tidak pahit, tidak gosong, tetapi punya “napas” hangat, harum, dan lembut di ujung hidung.
Inilah yang membuat pelanggan sering berkata,
“Aromanya saja sudah bikin lapar.”
Baca Juga: Dari Puncak ke Sudut Kota! Promo Restoran Bogor yang Membuat Wisata Kuliner Makin Ramai
Gelap, Kaya, dan Berkata Banyak
Tidak ada masakan Pontianak tanpa kecap.
Namun kecap yang digunakan Shahnaz bukan sembarang kecap. Warnanya gelap pekat, aromanya kuat, dan rasanya sedikit pahit jenis kecap yang jarang ditemukan di kota Bogor.
Kecap ini menjadi karakter utama dalam banyak menu:
- kwetiau goreng,
- mi kecap tumis,
- ayam lada hitam,
- nasi goreng Pontianak.
Ketika kecap ini terkena wajan panas, ia berubah menjadi karamel gurih yang menempel di permukaan makanan. Tidak terlalu manis, tidak menutupi bumbu lain hanya memberi sentuhan “Pontianak” yang sangat khas.
Inilah alasan kedai kecil ini sering disebut sebagai resto Pontianak di Bogor yang autentik.
Baca Juga: Kafe Terbaru Bogor dan Kreativitas Promo! Cara Generasi Baru Kedai Kopi Menarik Hati Pengunjung
Teknik Tumis Cepat
Ciri khas lain dari dapur Pontianak adalah teknik tumis cepat dengan suhu tinggi. Ini bukan teknik yang bisa dipelajari dari buku resep. Butuh pengalaman, kepekaan, dan keberanian untuk membiarkan api menang sesaat.
Shahnaz melakukan ini setiap hari.
Dalam beberapa detik:
- bawang ditumis,
- kecap dituangkan,
- api dinaikkan,
- kwetiau atau mi dimasukkan,
- semuanya digoyang sebelum gosong.
Aroma smoky lembut muncul bukan hangus, tapi wangi khas wajan yang “bekerja keras”.
Aroma ini tidak bisa dipalsukan.
Siapa pun yang pernah makan di kedai ini tahu rasa itu.
Jejaknya lembut tetapi dalam.
Dan hanya muncul ketika tangan berpengalaman yang memegang wajan.
Baca Juga: Kafe Terbaru Bogor dan Kreativitas Promo! Cara Generasi Baru Kedai Kopi Menarik Hati Pengunjung
Kesederhanaan yang Tidak Sederhana
Kedai Shahnaz tidak menawarkan plating mewah.
Tidak ada hiasan daun parsley, tidak ada piring modern bentuk unik.
Tapi justru di sini letak kekuatannya.
Masakan Pontianak dan masakan Shahnaz memang tidak diciptakan untuk difoto lebih dulu. Masakan ini diciptakan untuk dimakan, dinikmati, dan dirasakan.
Untuk membuat seseorang berhenti bicara sejenak dan berkata:
“Hm… ini rasanya kok kayak di rumah.”
Kesederhanaan ini yang membuat kopitiam Bogor ini punya karakter.
Makanan tidak dibuat-buat.
Rasa tidak ditipu.