Suara Wajan, Aroma Bawang! Kehangatan yang Membuat Orang Kembali ke Dapur Shahnaz Kopitiam
Begitu matahari mulai turun, kawasan Tanah Sereal berubah menjadi tempat yang penuh ritme. Orang-orang pulang kerja, pedagang menutup lapak, lampu-lampu kecil menyala satu per satu. Di antara ruko yang berjajar, ada satu pintu geser yang selalu menarik perhatian pintu dapur shahnaz kopitiam.
Saat pintu itu dibuka, dunia seperti berubah.
Aroma bawang putih tumis menyapa lebih dulu, lalu suara wajan beradu dengan spatula, renyah dan berirama seperti musik latar yang hanya dimengerti para pecinta masakan rumahan. Di balik asap tipis, Shahnaz berdiri dengan apron cokelatnya, memegang wajan seakan memegang alat musik yang telah ia mainkan sepanjang hidupnya.
Inilah salah satu kopitiam Bogor yang tidak mengandalkan lampu-lampu neon atau desain mewah. Daya tarik utamanya justru datang dari hal-hal kecil yang hidup: suara, aroma, dan suasana yang membuat siapa pun merasa diterima.
Suara Wajan yang Mengajak Orang Masuk
Banyak pelanggan bilang, mereka bisa mengenali kedai ini hanya dari suaranya.
Jika berjalan di trotoar saat sore tiba, seseorang bisa mendengar:
ceklek—ceklek—srrrt—tak!
Itu suara khas ketika kwetiau disentuh api besar dan kecap pekat mulai karamel. Ada sesuatu yang membuat orang berhenti sejenak, menoleh, lalu tersenyum kecil. Dalam dunia yang serba cepat, suara wajan seperti itu mengingatkan pada rumah tempat seseorang memasak bukan untuk bisnis, tapi untuk memberi makan.
Shahnaz selalu memasak sendiri. Ia percaya bahwa tumisan punya “napas”, dan napas itu hilang jika digantikan mesin atau staf yang belum mengenal rasa Pontianak secara mendalam. Karena itu, suara wajan bukan sekadar proses masak: itu bahasa cintanya.
Baca Juga: Kuliner Viral di Bogor! Bacang Panas 102 Suryakencana yang Sedap dan Ramai
Aroma Bawang yang Membawa Pulang Kenangan
Masakan Pontianak selalu dimulai dari bawang putih.
Tidak terlalu halus, tidak terlalu kasar sekadar ditumbuk untuk mengeluarkan minyaknya. Ketika minyak panas menyentuhnya, aroma itu langsung memenuhi ruangan. Aromanya hangat, sedikit manis, dan sangat akrab.
Banyak pelanggan yang datang ke sini karena aroma ini.
Ada yang bilang:
“Baunya kayak rumah nenek saya dulu di Pontianak.”
“Ini aromanya bikin kangen masa kecil.”
Aroma bawang tumis ini bukan sekadar bumbu. Ia adalah penanda identitas yang membedakan makanan Pontianak Bogor ini dari tumisan-tumisan lain di kota hujan.
Baca Juga: Di Balik Segelas Kopi Enak di Bogor! Ritual Pagi Para Barista Klan Cafe
Ruang Kecil dengan Kehangatan Besar
Masuk ke Dapur Shahnaz Kopitiam seperti masuk ke ruang keluarga seseorang. Meja kayu kecil, kursi yang tidak seragam, dinding dengan cat sederhana, dan sebuah rak yang memajang botol-botol kecap pilihan.
Ruangan itu kecil, tapi justru itu sumber kehangatannya.
Pelanggan dapat melihat Shahnaz memasak langsung dari meja mereka. Tidak ada batas antara dapur dan ruang makan. Hal ini membuat setiap orang merasa seperti sedang mengunjungi rumah seorang kerabat jauh yang kebetulan jago memasak.
Kadang, suara wajan ditambah oleh tawa kecil pelanggan tetap atau obrolan ringan tentang cuaca Bogor yang tidak pernah bisa ditebak. Semua terasa alami, santai, dan tidak dibuat-buat.
Baca Juga: Ramai Dibicarakan! Penalama Coffee Bogor Tawarkan View Hutan dan Suasana Tenang, Ini Faktanya
Menu yang Ditemani Suara dan Cerita
Ketika seporsi kwetiau Pontianak atau ayam lada hitam akhirnya mendarat di meja, pelanggan sudah melihat perjalanannya:
- bagaimana bawang ditumis,
- bagaimana kecap dituangkan,
- bagaimana Shahnaz menggoyang wajan dengan cepat,
- bagaimana api kompor hampir menyentuh langit-langit wajan.
Semua itu membuat makanan terasa lebih dari sekadar makan.
Ada pengalaman, ada kehangatan, ada cerita.
Mungkin ini alasan mengapa banyak orang menyebut kedai ini sebagai resto Pontianak di Bogor yang paling punya “jiwa”.