Jejak Rasa Kalimantan di Kota Hujan! Cerita Dapur Shahnaz Kopitiam Menjaga Warisan Masakan Pontianak
Di sebuah sore Bogor yang basah, jalanan Tanah Sereal masih mengilap oleh sisa hujan ketika seorang lelaki paruh baya mengetuk pintu sebuah ruko kecil. Ia baru pindah dari Kalimantan dan sudah berhari-hari mencari rasa yang mengingatkannya pada kampung halaman. Saat pintu geser terbuka, aroma bawang putih tumis dan kecap manis yang karamelnya pekat langsung menyergapnya.
Ia terpaku sejenak. “Ini… Pontianak sekali,” gumamnya pelan.
Di balik denting wajan, seorang perempuan berkerudung menoleh sambil tersenyum ramah. Itulah Shahnaz Khassani Bogor, perempuan yang tanpa sengaja menjadikan kedainya dapur shahnaz kopitiam sebagai tempat pulang bagi banyak perantau Kalimantan yang rindu cita rasa masa kecil.
Baca Juga: Kuliner Viral di Bogor! Bacang Panas 102 Suryakencana yang Sedap dan Ramai
Bogor yang Mendung, tapi Rasanya Pontianak
Bogor bukan tempat yang identik dengan masakan Kalimantan. Kota ini lebih terkenal dengan soto kuning, toge goreng, dan jajanan lembut seperti roti unyil. Karena itu, ketika ada kedai kecil yang menyajikan makanan Pontianak Bogor, orang-orang langsung penasaran.
Masakan Pontianak selalu punya karakter kuat yang mudah dikenali: aroma bawang yang ringan namun menusuk, kecap manis yang warnanya gelap dan sedikit pahit, serta tumisan cepat yang menghasilkan rasa smoky lembut di ujung lidah.
Kombinasi itu jarang muncul di dapur-dapur Bogor, tapi di kedai kecil milik Shahnaz, semua itu seperti pulang ke habitatnya.
Baca Juga: Maraca Books & Coffee Bogor! Tempat Sempurna untuk Ngopi, Baca, dan Bekerja
Warisan Rasa dari Tiga Budaya
Pontianak adalah kota pertemuan Melayu, Tionghoa, Dayak dan ketiganya saling mengisi dalam urusan dapur. Warisan ini turun ke tangan Shahnaz bukan lewat sekolah kuliner, tetapi lewat meja makan keluarga.
Ibunya biasa memasak kwetiau lembut dengan tumisan bawang dan kecap pekat. Ayahnya sering membuat ayam lada hitam yang pedasnya membuat tubuh hangat meski hujan turun deras. Di rumah mereka, makanan adalah cara menjaga cerita keluarga tetap hidup.
Ketika Shahnaz merantau ke Bogor, ia membawa semua ingatan itu bersamanya.
Dan setelah bertahun-tahun, ingatan itu menemukan wujudnya di sebuah ruko mungil yang kini dikenal sebagai resto Pontianak di Bogor.
Baca Juga: Di Balik Segelas Kopi Enak di Bogor! Ritual Pagi Para Barista Klan Cafe
Tidak Banyak Menu, Tapi Setiap Menu Punya Cerita
Dapur Shahnaz Kopitiam bukan jenis tempat makan yang menawarkan puluhan menu. Justru kedai ini memilih jalur sebaliknya menyediakan sedikit, tapi dikerjakan dengan sepenuh hati.
Beberapa menu yang mencuri perhatian pelanggan:
1. Kwetiau Pontianak
Lembut, wangi bawang, dengan rasa kecap yang kaya. Banyak pelanggan bilang menu ini “mengingatkan pada kuliner Gajahmada Pontianak”.
2. Ayam Lada Hitam
Bukan pedas membabi buta, tapi pedas yang hangat dan punya aroma khas. Dimasak dengan teknik tumis cepat ala keluarga Shahnaz.
3. Mi Tumis Kecap
Manis gurih, sederhana, tapi sering membuat orang datang kembali hanya untuk sepiring mi yang “tidak bisa dicari di tempat lain”.
4. Kopi ala Kopitiam
Kental tapi tidak pahit menusuk. Cocok dengan konsep kopitiam Bogor yang Shahnaz bangun tempat makan rumahan, bukan restoran formal.
Setiap menu diracik bukan karena permintaan tren, tapi karena itu adalah bagian dari warisan keluarga Kalimantan yang tidak ingin ia lepaskan.
Baca Juga: Di Balik Segelas Kopi Enak di Bogor! Ritual Pagi Para Barista Klan Cafe
Ketika Pelanggan Tak Lagi Sekadar Pembeli
Hal paling menarik dari kedai ini bukan hanya makanannya, tetapi hubungan antara pemilik dan para pelanggannya.
Shahnaz mengenali wajah-wajah yang sering datang. Ia tahu mana pelanggan yang baru pindah dari Kalimantan, mana yang datang karena penasaran, dan mana yang datang karena benar-benar rindu kampung halaman.
Sering kali terjadi momen seperti ini:
“Bu, kwetiaunya mirip kwetiau depan sekolah saya dulu…”
Shahnaz tertawa kecil. “Ah, berarti saya berhasil bikin kamu pulang sebentar.”
Di kedai kecil itu, rasa bukan sekadar bumbu dan teknik. Rasa adalah ingatan. Rasa adalah rumah.
Baca Juga: Dari Puncak ke Sudut Kota! Promo Restoran Bogor yang Membuat Wisata Kuliner Makin Ramai
Kedai Kecil yang Menjaga Warisan Besar
Di tengah kota yang bergerak cepat seperti Bogor, tidak banyak ruang untuk makanan tradisional yang diolah dengan cara lama tanpa shortcuts, tanpa bumbu instan, tanpa kompromi.
Tapi di dapur kecil Shahnaz, semuanya dikerjakan seperti ibu-ibu Kalimantan mengerjakan masakan untuk keluarganya.
Ia percaya bahwa menjaga rasa warisan sama pentingnya dengan membuka usaha.
Karena itu, setiap tumisan, setiap tetes kecap, setiap helai kwetiau, adalah bagian dari usaha kecilnya menjaga identitas Pontianak tetap hidup meski jauh dari tanah kelahirannya.
Baca Juga: Tempat Nongkrong Murah di Bogor! Bagaimana Promo Membantu Generasi Muda Tetap Waras dan Hemat
Dan Begitulah Jejak Rasa Itu Menyebar
Kini, semakin banyak orang datang karena cerita yang mereka dengar dari teman.
Ada yang mencari comfort food, ada yang rindu rumah, ada yang ingin mencoba kuliner yang belum pernah mereka rasakan.
Dan ketika mereka menutup pintu kedai itu, aroma bawang dan kecap pekat selalu ikut menempel di pakaian seakan membawa pulang sepotong Pontianak dalam perjalanan mereka.
Di ruko sederhana itu, Shahnaz tidak hanya menjual makanan.
Ia menjaga warisan.
Ia merawat ingatan.
Ia menghadirkan Pontianak ke kota hujan dengan cara paling jujur: lewat rasa.