4 February 2026
Wisata

Ketika Gunung Pancar Menjadi Tempat Pulih Setelah Hubungan Berakhir

Ketika Gunung Pancar Menjadi Tempat Pulih Setelah Hubungan Berakhir

Rani mengusap sisa air mata di pipinya saat motor yang ia kendarai memasuki kawasan Gunung Pancar Bogor. Udara pagi menusuk lembut, membawa aroma tanah basah yang terasa menenangkan. Ia tidak berencana apa-apa hari itu, hanya ingin pergi. Pergi sejauh mungkin dari kamar sempit yang penuh kenangan, dari pesan-pesan yang sudah tidak ingin ia lihat, dan dari hati yang terasa retak di banyak tempat.

Saat gerbang hutan pinus terbuka, kabut tipis terlihat menggantung rendah di antara batang-batang tinggi. Rani mematikan mesin dan menatap ke atas. Pohon-pohon itu berdiri lurus, tenang, seolah berkata bahwa ia boleh menangis di sini tanpa perlu menjelaskan apa pun.

“Mungkin ini tempat yang tepat,” bisiknya.

Baca Juga: Mencari Kedekatan yang Hilang! Perjalanan Ibu dan Anak ke Lembah Tenang Puncak

Langkah Pertama di Hutan Pinus

Ia berjalan perlahan, membiarkan suara ranting kecil patah di bawah sepatu menjadi pengalih dari suara-suara di kepalanya. Hening di Gunung Pancar bukanlah keheningan yang menakutkan; justru hening yang memberi ruang.

Setiap langkah terasa seperti mengendurkan beban yang menempel di pundaknya. Sesekali angin bergerak, membuat dedaunan berbisik halus. Cahaya matahari belum sepenuhnya muncul, tapi sinarnya sudah mulai menembus celah-celah pinus, menciptakan garis-garis cahaya yang jatuh ke tanah seperti tirai tipis.

Rani berhenti di sebuah bangku kayu sederhana. Ia duduk, memeluk lutut, dan membiarkan dadanya mengeluarkan napas panjang yang sejak semalam tertahan.

“Apa aku salah?”
Pertanyaan itu muncul, tapi ia biarkan menggantung di udara tanpa jawaban.

Baca Juga: Tidak Hanya Kopi, Menu Olu Signature Coffee Menjadi Teman Banyak Pengunjung Menghadapi Hari

Menangis Tanpa Penonton

Di kota, ia selalu menahan tangisnya. Di rumah, ia berusaha terlihat kuat di depan keluarga. Di kantor, ia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.

Di sini, di antara puluhan pinus yang menjulang, ia akhirnya bisa melepaskan.

Air mata jatuh perlahan, bukan karena ingin menyedihkan diri, tetapi karena tubuhnya akhirnya merasa aman untuk mengeluarkannya. Tidak ada yang memperhatikan. Tidak ada yang bertanya. Alam hanya menerima.

Suara burung dari kejauhan membuat hatinya sedikit lebih hangat. Ia menutup wajahnya dengan telapak tangan, lalu tertawa kecil di sela tangis.

“Kenapa ya hidup bisa seberantakan ini?” ucapnya pada pohon-pohon yang mendengarkan.

Baca Juga: Di Balik Produktivitas Generasi Muda, Olu Signature Coffee Menjadi Ruang Fokus yang Dicari

Momen Saat Cahaya Mulai Muncul

Ketika matahari akhirnya terbit sepenuhnya, sinarnya menembus kabut dan jatuh di tanah seperti titik-titik emas. Rani menatapnya lama. Ada sesuatu yang pelan-pelan berubah dalam dirinya.

Ia berdiri dan mulai berjalan lebih dalam ke hutan. Setiap kelokan memperlihatkan sudut baru: akar besar di tanah, pohon tumbang yang menjadi tempat duduk alami, dan spot terbuka di mana cahaya turun sangat indah hingga terasa seperti tempat suci.

Tanpa sadar, Rani merasakan rasa syukur kecil muncul.
Bukan karena ia baik-baik saja ia belum.
Tapi karena ia tahu, rasa sakit pun bisa dibawa ke tempat yang lembut.

Baca Juga: Di Balik Produktivitas Generasi Muda, Olu Signature Coffee Menjadi Ruang Fokus yang Dicari

Mengapa Gunung Pancar Cocok untuk Healing?

1. Hening yang tidak menghakimi

Hutan pinus memberi ruang aman untuk menangis atau diam selama yang dibutuhkan.

2. Aroma tanah basah yang menenangkan

Aroma ini membantu tubuh menurunkan ketegangan.

3. Garis cahaya matahari yang memunculkan harapan kecil

Visual yang menyembuhkan, tanpa perlu kata-kata.

4. Jalur setapak yang mengundang untuk introspeksi

Setiap langkah terasa seperti dialog dengan diri sendiri.

Percakapan Pelan dengan Diri Sendiri

Dalam perjalanan kembali ke arah motor, Rani berhenti di sebuah titik di mana cahaya jatuh tepat di antara dua pohon. Ia berdiri di sana cukup lama, membiarkan cahaya menyentuh wajahnya.

Untuk pertama kalinya sejak putus, ia berbicara pelan kepada dirinya sendiri:
“Aku akan baik-baik saja… nanti.”

Ia tidak memaksakan senyum. Ia tidak mencoba menyembunyikan luka. Tetapi ia tahu, luka itu tidak lagi menguasainya sepenuhnya.

Kadang, seseorang tidak perlu solusi untuk sembuh. Yang ia butuhkan hanyalah ruang untuk hancur dulu lalu bangkit perlahan.

Pulang dengan Rasa yang Lebih Utuh

Saat Rani menghidupkan motor dan bersiap pulang, hutan pinus di belakangnya seakan mengirimkan pesan samar: datanglah lagi jika kamu butuh tempat aman.

Rani menatap sekali lagi ke arah barisan pohon tinggi itu. Angin bergerak pelan, seperti memberi salam perpisahan.

Ia menghela napas panjang.
Tidak semuanya selesai hari ini.
Tapi setidaknya, hari ini ia kembali menemukan bagian kecil dari dirinya yang sempat ia tinggalkan.

Dan itu cukup untuk melangkah lagi.

About Author

Dea

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *