Ketika Bogor Terjaga Semalaman! Cerita Tahun Baru di Sekitar Tugu Kujang
Pukul lima sore, langit Bogor sudah lebih dulu berubah warna. Awan menggantung rendah, seolah menimbang apakah hujan perlu diturunkan sekarang atau menunggu hingga tengah malam. Di sekitar Tugu Kujang, beberapa pedagang mulai membuka lapak lebih awal dari biasanya. Gerobak kopi dorong berhenti di sudut trotoar. Bau jagung bakar pelan-pelan mengalahkan aroma knalpot.
Bogor, kota yang dikenal tenang dan cepat gelap, mulai bersiap untuk satu malam yang berbeda.
Seorang pria paruh baya mengenakan jaket tipis berdiri di dekat bundaran. Ia mengatur arus kendaraan sambil sesekali meniup peluit. Belum ada kembang api. Belum ada teriakan hitung mundur. Tapi tanda-tanda sudah jelas: malam ini, Bogor tidak akan tidur cepat.
Tugu Kujang, yang biasanya hanya menjadi latar foto singkat atau titik putar arah kendaraan, berubah perlahan menjadi pusat gravitasi. Orang-orang datang tanpa undangan resmi. Tidak ada panggung besar, tidak ada konser megah. Hanya manusia, kota, dan waktu yang bergerak menuju angka nol.
Baca Juga: Anak Pulang Tidak Hanya Lelah, Tapi Juga Tahu Banyak Hal dari Water Kingdom Mekarsari
Kota yang Berubah Sejak Senja
Sekitar pukul enam, arus kendaraan mulai menebal. Plat nomor luar kota muncul satu per satu. Motor berboncengan membawa anak muda yang tertawa lebih keras dari biasanya. Mobil keluarga melambat, kaca jendela terbuka, kamera ponsel sudah siap.
Di salah satu sudut, seorang pedagang kopi menyeduh minuman panas. Ia tahu malam ini tidak akan seperti malam lain. Tahun Baru selalu menjadi kesempatan bukan hanya untuk berjualan, tapi untuk melihat wajah kota berubah.
“Kalau malam biasa, jam sepuluh sudah sepi,” katanya singkat. “Tapi malam ini bisa sampai subuh.”
Bogor memang bukan Jakarta. Tidak ada pesta besar yang terjadwal rapi. Tapi justru di situlah daya tariknya. Perayaan Tahun Baru di sekitar Tugu Kujang terasa spontan, cair, dan personal. Setiap orang membawa caranya sendiri untuk menyambut pergantian tahun.
Baca Juga: Maraca Books & Coffee Bogor! Tempat Sempurna untuk Ngopi, Baca, dan Bekerja
Keramaian yang Tumbuh Perlahan
Menjelang pukul delapan malam, trotoar mulai penuh. Ada yang sekadar berdiri, ada yang duduk di motor, ada pula yang memilih berjalan kaki mengitari bundaran. Suara klakson bersahutan, tidak selalu karena marah kadang hanya ikut merayakan.
Petugas lalu lintas bekerja lebih serius sekarang. Mereka tahu, sedikit saja lengah, simpul jalan bisa berubah menjadi kemacetan panjang. Tapi di wajah mereka tidak terlihat keluhan berlebihan. Malam Tahun Baru selalu begitu melelahkan, tapi sudah dipahami sejak awal.
Di sela-sela itu, Bogor tetap menjadi Bogor. Udara lembap. Angin dingin. Dan hujan, yang akhirnya turun sebentar lalu berhenti, seolah memberi tanda bahwa malam masih panjang.
Tugu Kujang sebagai Titik Temu

Menariknya, banyak orang datang tanpa rencana jelas. Mereka tidak mengejar acara tertentu. Tugu Kujang hanya menjadi alasan untuk keluar rumah, bertemu keramaian, dan merasakan bahwa tahun benar-benar berganti.
Sepasang sahabat berdiri sambil berbagi cerita tentang setahun yang baru lewat. Sekelompok remaja tertawa sambil memotret diri mereka dengan latar patung kujang yang diterangi lampu. Ada juga keluarga kecil yang hanya ingin anaknya melihat kembang api pertama dalam hidupnya.
Di sinilah Tugu Kujang memainkan peran tak tertulisnya: sebagai ruang bersama. Bukan milik satu kelompok, bukan pula panggung eksklusif. Ia menjadi saksi bisu ribuan harapan kecil yang tidak pernah diumumkan keras-keras.
Baca Juga: Berjalan Malam Tahun Baru di Bogor! Romantis yang Datang dari Langkah Pelan
Menunggu Detik yang Sama
Waktu bergerak cepat setelah pukul sepuluh. Keramaian mencapai puncaknya. Jalanan di sekitar tugu semakin padat, tapi orang-orang tetap bertahan. Tidak ada yang benar-benar ingin pulang sebelum detik terakhir tahun lama habis.
Hitung mundur tidak selalu terkoordinasi. Ada yang mulai lebih awal. Ada yang terlambat. Tapi ketika kembang api pertama meledak di kejauhan, semua mata otomatis menengadah.
Suara sorak-sorai pecah. Pelukan singkat terjadi di antara orang-orang yang bahkan mungkin baru saling mengenal malam itu. Beberapa orang menutup mata sejenak. Yang lain merekam layar ponsel, mencoba menyimpan momen yang sebenarnya tidak bisa benar-benar ditangkap kamera.
Di tengah keramaian itu, Bogor terasa sangat hidup.