5 Kuliner Bogor yang Selalu Dicari Saat Hujan Turun Perlahan! Dijamin Ngiler
Hujan turun pelan di Bogor sore itu. Jalanan basah memantulkan lampu motor, udara terasa lembap, dan aroma tanah yang baru tersiram hujan muncul samar-samar. Di sudut jalan, seorang penjual mendorong gerobak kecilnya, uap tipis mengepul dari panci. Beberapa orang berhenti, sebagian lagi berteduh sambil menunggu pesanan. Di Bogor, hujan bukan alasan untuk pulang cepat. Justru sebaliknyabia sering menjadi penanda bahwa waktunya makan sesuatu yang hangat, asam, gurih, atau pedas.
Kota hujan ini punya cara sendiri membuat orang lapar. Bukan dengan restoran mewah atau menu rumit, tapi lewat kuliner sederhana yang sudah puluhan tahun bertahan. Makanan yang tidak hanya mengenyangkan, tapi juga menyimpan memori tentang pagi yang sibuk, sore yang mendung, atau perjalanan singkat yang berujung rindu.
Dari sekian banyak pilihan, ada beberapa kuliner Bogor yang hampir selalu disebut pertama kali. Bukan karena viral, melainkan karena rasanya konsisten dan ceritanya panjang. Lima di antaranya ada di sini.
Baca Juga: Humaira Coffee Cafe Viral di Puncak, Dari Kedai Sunyi Jadi Destinasi Wajib Akhir Pekan
Asinan Bogor

Asinan Bogor sering menjadi perkenalan pertama bagi orang yang baru datang ke kota ini. Seporsi sayur atau buah disiram kuah asam pedas, ditaburi kacang tanah, lalu ditambah kerupuk kuning yang renyah. Sekilas sederhana, tapi sekali dicicipi, rasanya langsung menempel.
Yang membuat asinan istimewa bukan hanya rasanya, tapi momennya. Ia cocok dimakan siang hari saat panas, atau sore menjelang hujan. Asamnya menyegarkan, pedasnya membangunkan selera, dan manisnya menenangkan. Banyak penjual asinan yang bertahan di gang sempit atau pinggir jalan, melayani pelanggan yang datang silih berganti, dari pelajar sampai orang tua yang sudah puluhan tahun langganan.
Di Bogor, asinan bukan sekadar camilan. Ia adalah jeda.
Baca Juga: Kuliner Viral di Bogor! Bacang Panas 102 Suryakencana yang Sedap dan Ramai
Soto Mie Bogor

Jika hujan turun lebih deras, soto mie Bogor biasanya jadi pilihan utama. Semangkuk mie kuning, kol, kikil, dan potongan risol goreng disiram kuah kaldu panas. Uapnya naik perlahan, aromanya langsung mengisi udara.
Soto mie bukan makanan ringan. Ia mengenyangkan, sedikit berminyak, dan penuh tekstur. Risol goreng yang lembut di dalam, kikil yang kenyal, dan kuah yang gurih menciptakan kombinasi yang sulit ditolak. Banyak orang Bogor menganggap soto mie sebagai makanan “penyelamat hari buruk”.
Makan soto mie sering kali tidak terburu-buru. Duduk di bangku plastik, sendok di tangan, hujan di luar, dan waktu seperti melambat.
Baca Juga: Humaira Coffee Cafe Viral di Puncak, Dari Kedai Sunyi Jadi Destinasi Wajib Akhir Pekan
Toge Goreng

Namanya toge goreng, tapi proses memasaknya justru direbus. Toge, mie kuning, tahu, dan ketupat disiram saus oncom dan tauco yang kental. Aromanya khas kuat, sedikit fermentasi, dan sangat Bogor.
Toge goreng adalah contoh kuliner yang tidak berubah mengikuti zaman. Rasanya tetap seperti dulu, tampilannya sederhana, dan penyajiannya apa adanya. Tapi justru di situlah kekuatannya. Sekali jatuh cinta, sulit berpaling.
Banyak orang yang awalnya ragu mencicipi toge goreng, lalu terkejut setelah suapan pertama. Gurih, sedikit asam, dan penuh karakter.
Baca Juga: Cafe Date Romantis di Puncak! Ketika Kabut, Kopi Hangat, dan Perasaan Bertemu
Laksa Bogor

Laksa Bogor punya kepribadian yang berbeda. Kuahnya santan kekuningan, aromanya rempah, tapi rasanya tidak terlalu tajam. Di dalamnya ada bihun, tauge, telur rebus, dan daun kemangi yang memberi aroma segar.
Laksa sering dimakan perlahan. Kuahnya hangat, rasanya dalam, dan cocok disantap saat pagi mendung atau sore yang tenang. Dibandingkan laksa dari daerah lain, versi Bogor terasa lebih ringan tapi tetap berkarakter.
Ini bukan makanan yang ingin mengejutkan lidah. Laksa Bogor lebih seperti teman ngobrol yang menenangkan.
Baca Juga: Glamping Mewah Bernuansa Mongolia! Malam Tahun Baru Tak Terlupakan di The Highland Park Resort Bogor
Doclang

Doclang biasanya muncul pagi hari. Lontong, kentang rebus, tahu, telur, lalu disiram saus kacang kental. Tidak pedas berlebihan, tidak terlalu manis, dan cukup mengenyangkan untuk memulai hari.
Banyak penjual doclang yang hanya buka beberapa jam. Setelah lewat jam makan pagi, gerobaknya sudah menghilang. Mungkin itu sebabnya doclang terasa spesial ia tidak selalu tersedia.
Doclang sering dikaitkan dengan rutinitas: berangkat kerja, belanja ke pasar, atau sekadar jalan pagi. Makanannya sederhana, tapi penuh rasa akrab.