Perempuan, Kota Baru, dan Dapur yang Menemukan Jalannya Sendiri.
Ketika Shahnaz pertama kali menginjakkan kaki di Bogor, ia datang tanpa rencana besar. Kota itu terasa asing, suasananya lembap, langitnya sering kelabu. Tidak ada aroma bawang tumis seperti di rumahnya di Pontianak, tidak ada suara wajan di pagi hari, tidak ada riuh dapur yang biasanya mengisi kesehariannya.
Ia datang sebagai perantau. Sebagai perempuan yang mencoba bertahan.
Dan untuk waktu yang lama, Bogor tidak terasa seperti rumah.
Namun kadang, rumah bukan tempat yang kita datangi.
Rumah adalah sesuatu yang kita bangun sedikit demi sedikit, dari hal-hal kecil yang mengisi hidup.
Bagi Shahnaz, “rumah” itu tumbuh dari dapur.
Baca Juga: Ruang Cerita di Klan Cafe Bogor! Tempat Nongkrong yang Merawat Perjumpaan
Kesepian yang Pelan-Pelan Menjadi Bumbu
Awal tinggal di Bogor, Shahnaz tidak langsung membuka kedai. Ia melewati bulan-bulan sepi yang penuh keraguan. Kota ini bergerak cepat, dan ia sering merasa tertinggal.
Untuk mengusir sunyi, ia kembali melakukan hal yang paling ia kenal memasak.
Setiap pagi, bau bawang putih tumis memenuhi rumah kontrakannya. Setiap malam, ia mencoba kembali merekonstruksi rasa kampung halamannya:
- kwetiau tumis lembut khas Pontianak,
- ayam lada hitam pedas wangi,
- mi kecap rumahan dengan aroma smoky,
- kopi panas berkarakter tapi tidak menusuk.
Saat memasak, ia merasa tenang.
Saat mencicipi, ia merasa pulang.
Teman-teman dekat yang mencicipi masakannya mulai berkata,
“Naz, kenapa tidak buka kedai saja? Bogor butuh rasa seperti ini.”
Ia tersenyum, ragu. Namun benih kecil itu mulai tumbuh di hatinya.
Baca Juga: Kafe Terbaru Bogor dan Kreativitas Promo! Cara Generasi Baru Kedai Kopi Menarik Hati Pengunjung
Keputusan yang Mengubah Semua
Setelah beberapa waktu, ia memutuskan menyewa satu ruko kecil di Tanah Sereal tanpa dekor mewah, tanpa branding besar. Ia hanya membawa wajan tua, kompor kuat, beberapa bahan yang ia percaya, dan keberanian yang dikumpulkannya bertahun-tahun.
Begitulah dapur shahnaz kopitiam lahir.
Kedai itu kecil, tetapi justru itu kekuatannya.
Meja kayu sederhana, kursi tidak seragam, dan dapur terbuka tempat ia memasak sambil menatap pelanggan. Semua terasa jujur. Tidak dibuat-buat. Tidak memaksa menjadi seperti restoran besar.
Di balik wajan, Shahnaz akhirnya menemukan jati dirinya: bukan sekadar perempuan yang memasak, tetapi perempuan yang merawat rasa.
Perjalanan Tidak Pernah Mulus
Hari-hari pertama membuka kedai terasa panjang. Ada hari-hari sepi ketika hanya satu pelanggan datang. Ada malam ketika ia menatap cat tembok yang mulai mengelupas dan bertanya dalam hati
“Apakah ini jalan yang benar?”
Namun setiap kali keraguan muncul, ia kembali ke dapur.
Wajan panas, suara tumisan, dan aroma bawang selalu memberi jawaban.
Dan perlahan, orang-orang mulai berdatangan. Bukan karena iklan. Bukan karena trik marketing.
Tapi karena cerita.
Seseorang mengatakan rasa masakannya mengingatkannya pada rumah di Pontianak. Yang lain berkata bahwa ini adalah makanan Pontianak Bogor yang paling otentik. Ada juga yang bilang mereka datang karena suasananya karena kehangatan yang tidak ditemukan di tempat lain.
Rasa yang Tidak Dizinkan Hilang
Pontianak memiliki kekayaan rasa yang unik: bawang yang dominan, kecap pekat yang karamel, teknik tumis cepat dengan api besar. Rasa itu adalah bagian dari identitas Shahnaz, dan ia menolaknya hilang meski jauh dari kota kelahirannya.
Inilah yang membuat kedainya dikenal sebagai resto Pontianak di Bogor yang jujur.
Tidak dimodifikasi agar mengikuti tren.
Tidak disesuaikan agar “lebih laku”.
Ia memasak seperti memasak untuk keluarga dengan kesungguhan, dengan ingatan, dan dengan cinta.
Baca Juga: Mencicipi Cerita di Setiap Gelas! Menu Penalama Coffee Bogor yang Bikin Orang Ingin Kembali
Orang Datang, Karena Mereka Merasa Ditemani
Bukan hanya rasa yang membuat orang kembali ke kedai ini.
Tapi cara Shahnaz memperlakukan pelanggannya.
Ia menyapa mereka satu per satu.
Ia bertanya apakah rasanya pas.
Ia ingat siapa yang suka pedas, siapa yang tidak makan daging, siapa yang pesan kopi tanpa gula.
Hal-hal kecil yang mungkin dianggap sepele, tapi inilah yang membuat pelanggan merasa ada “rumah” di ruko kecil itu.
Dan dalam diam, mereka menjadi bagian perjalanan Shahnaz.
Baca Juga: Kafe Terbaru Bogor dan Kreativitas Promo! Cara Generasi Baru Kedai Kopi Menarik Hati Pengunjung
Begitulah Seorang Perempuan Menemukan Jalannya
Di kota yang awalnya terasa asing, Shahnaz perlahan membangun ruang yang sekarang menjadi tempat banyak orang pulang.
Dari wajan kecilnya, ia menemukan jati diri.
Dari aroma tumisan, ia menemukan kepercayaan diri.
Dari pelanggan yang kembali, ia menemukan rumah.
Kopitiam Bogor itu kini bukan hanya kedai makan.
Ia adalah bukti bahwa ketika seorang perempuan berani mengikuti suara hatinya meski pelan, meski ragu jalan itu akan menemukan bentuknya sendiri.
Dan di setiap piring yang ia sajikan, jejak perjalanan itu terasa.