4 February 2026
Business Kuliner

Dari Dapur Rumahan ke Ruko Sederhana! Bagaimana Rasa Pontianak Menemukan Rumah Baru di Bogor

Dari Dapur Rumahan ke Ruko Sederhana! Bagaimana Rasa Pontianak Menemukan Rumah Baru di Bogor

Sore itu, hujan baru saja berhenti ketika seorang perempuan muda mengetuk pintu sebuah ruko mungil di Tanah Sereal. Papan kecil bertuliskan Dapur Shahnaz Kopitiam tergantung malu-malu, nyaris tidak mencolok. Namun begitu pintu digeser, aroma bawang putih tumis langsung keluar seperti sambutan hangat dari kampung halaman yang jauh.

Di balik dapur, seorang perempuan berkerudung sedang mengaduk tumisan kwetiau dengan gerakan cepat dan pasti. Wajahnya tenang, matanya fokus, tetapi ada senyum kecil ketika ia sadar pelanggan baru datang. Begitulah sosok Shahnaz Khassani Bogor perempuan yang membawa jejak rasa Pontianak dalam setiap tetes kecap yang menyentuh wajan panas kedainya.

Padahal, sebelum membuka kedai ini, hidupnya jauh dari gemerlap dunia kuliner.

Baca Juga: Berburu Promo Kafe Bogor di Malam Hujan! Kisah Orang-Orang yang Menemukan Hangat di Antara Diskon

Awalnya Hanya Dapur Rumah, Bukan Kedai

Beberapa tahun lalu, Shahnaz hanyalah seorang perantau dari Pontianak yang mencoba menetap di Bogor. Ia merindukan banyak hal: suara riuh pasar pagi, warna kecap Pontianak yang gelap, dan aroma tumisan ala kampung halamannya yang tidak terlalu manis, tidak terlalu asin, tetapi punya “jiwa” yang sulit dideskripsikan.

Kerinduan itu menuntunnya kembali ke dapur tempat ia merasa paling bisa bernapas.
Dari sana, ia mulai memasak hidangan kecil untuk keluarga, lalu teman, lalu tetangga. Kwetiau Pontianak buatannya sering membuat orang bertanya:

“Buk, kok rasanya beda ya? Ini Pontianak banget.”

Dan mungkin dari situlah semuanya dimulai.
Bukan dari ambisi besar, bukan dari modal besar melainkan dari rasa yang ingin pulang.

Baca Juga: Kuliner Viral di Bogor! Bacang Panas 102 Suryakencana yang Sedap dan Ramai

Langkah Kecil yang Mengubah Banyak Hal

Setelah cukup banyak pesanan datang dari mulut ke mulut, Shahnaz memberanikan diri menyewa sebuah ruko kecil. Lokasinya sederhana, bukan tempat strategis di tengah kota. Tapi ia hanya butuh satu hal: dapur yang cukup untuk menggoreng, menumis, dan menyajikan hidangan yang mengingatkannya pada rumah.

Nama kopitiam Bogor ia pilih karena konsep kedainya sederhana kopi, makanan rumahan, dan suasana hangat seperti kedai kecil di kampung halaman. Ia tidak ingin kedainya terlihat mewah, karena baginya, makanan paling lezat justru sering datang dari tempat yang apa adanya.

Namun membuka kedai berarti membuka diri pada ketidakpastian. Ada hari-hari ketika ia hanya menunggu sambil mendengar suara hujan di luar. Ada minggu ketika penjualan seret. Tapi setiap kali keraguan muncul, aroma bawang di atas wajan selalu menguatkan langkahnya.

Baca Juga: Kuliner Viral di Bogor! Bacang Panas 102 Suryakencana yang Sedap dan Ramai

Menghadirkan Rasa Pontianak yang Sesungguhnya

Makanan Pontianak memiliki karakter yang berbeda dari kebanyakan masakan daerah lain. Tidak heboh bumbu, tidak penuh rempah berat, tetapi kaya aroma dan sentuhan bawang.

Shahnaz memutuskan mempertahankan identitas itu.

Kwetiau yang ia masak selalu menggunakan bawang yang ditumis sampai sedikit karamel. Ayam lada hitamnya pedasnya tidak menyolok, tetapi hangat di tenggorokan. Mi kecap racikannya selalu punya manis gurih yang melekat, tetapi tidak menumpuk di lidah.

Inilah yang membuat kedainya perlahan dikenal sebagai salah satu resto Pontianak di Bogor yang rasanya benar-benar “rumahan”.

Bukan versi dimodifikasi agar populer.
Bukan versi instan agar cepat disajikan.
Melainkan rasa yang benar-benar tumbuh dari ingatan masa kecilnya.

Baca Juga: Berburu Promo Kafe Bogor di Malam Hujan! Kisah Orang-Orang yang Menemukan Hangat di Antara Diskon

Pelanggan Datang, Bukan Sekadar Makan

Yang menarik dari perkembangan kedai ini adalah cara orang menemukannya. Ada yang datang karena rindu kampung halaman. Ada yang penasaran mencicipi makanan Pontianak Bogor yang jarang ditemui. Ada juga yang sekadar lewat dan berhenti karena harum tumisan yang “menyeret” perhatian.

Namun banyak dari mereka kembali bukan karena menu yang beragam, melainkan karena kehangatan tempat itu sendiri.

Shahnaz selalu menyapa pelanggan dengan senyum. Ia sering bertanya:
“Kurang apa, Kak? Terlalu pedas? Mau kecap lagi?”
Hal-hal sederhana yang mengingatkan orang pada rumah.

Kedai ini tidak hanya menjual makanan tapi menjual perasaan dikenal, dihargai, dan disambut dengan tulus.

Baca Juga: Di Balik Segelas Kopi Penalama Bogor! Perjalanan Rasa yang Mengajak Kita Melambat

Ruko Kecil, Cerita Besar

Kini, ketika seseorang membuka pintu Dapur Shahnaz Kopitiam, mereka tidak hanya menemukan tempat makan. Mereka menemukan cerita seorang perempuan yang membawa Pontianak di hatinya, yang menolak kehilangan identitas rasa meski tinggal di kota lain, dan yang percaya bahwa makanan bukan sekadar lauk pauk—melainkan bahasa cinta.

Ruko itu memang kecil. Tapi dari dapur kecil itulah, jejak rasa Pontianak menemukan rumah baru di Bogor.

Dan siapa pun yang datang, akan merasakannya sejak gigitan pertama.

About Author

Dea

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *