4 February 2026
Cafe

Ketika Pertemanan Lama Butuh Ruang Tenang, Humaira Coffee Jadi Titik Temu

Ketika Pertemanan Lama Butuh Ruang Tenang, Humaira Coffee Jadi Titik Temu

Dito menepikan mobilnya di depan bangunan kayu kecil dengan tulisan Humaira Coffee Bogor Puncak. Ia memandang keluar jendela, memastikan tempatnya benar. Sudah bertahun-tahun ia tidak bertemu Akbar teman SMA yang dulu selalu menemaninya melakukan hal-hal gila, mulai dari tawuran kecil-kecilan ala remaja sampai ke petualangan camping dadakan. Kemudian, hidup memisahkan mereka masing-masing.

Hari itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka sepakat bertemu di coffee shop yang disebut-sebut paling tenang di Puncak.

Ketika Dito masuk, Akbar sudah duduk di pojok ruangan. “Dit!” panggilnya sambil bangkit.

Dito tertawa. “Bar! Gila, udah kayak bapak-bapak sekarang.”

“Lo juga,” balas Akbar sambil menepuk pundaknya.

Dan begitu saja, suasana canggung memudar.

Tempat yang Membiarkan Percakapan Mengalir

Mereka memesan kopi dan duduk di area dekat jendela besar. Dari sana, bukit hijau dan kabut tipis terlihat jelas pemandangan yang jarang mereka dapatkan sejak bekerja di Jakarta. Interior Humaira Coffee terasa sederhana namun hangat: kayu, lampu kuning pelan, dan tanaman hijau yang merambat di sudut-sudut ruangan.

“Tempatnya enak banget,” kata Dito.

Akbar mengangguk. “Iya, gue butuh tempat kayak gini. Biar nggak terus keinget kerjaan.”

Begitu kopi datang, mereka saling menatap sebentar. Ada jeda aneh sebelum akhirnya tawa pecah begitu saja. Seperti dulu, ketika mereka masih muda dan dunia terasa lebih ringan.

Cerita Lama yang Dibuka Kembali

Obrolan awalnya tentang hal-hal ringan: kerjaan, kabar keluarga, dan rencana masa depan. Tapi perlahan, Humaira Coffee dengan suasananya yang sunyi dan lembut membuat mereka mulai membuka cerita-cerita lama.

“Lo inget nggak waktu kita kabur dari sekolah cuma buat nonton bola?” tanya Akbar.

Dito hampir tersedak kopinya. “Anjir, itu gue yang disetrap guru! Lo kabur duluan!”

Akbar tertawa keras. “Gue panik kali!”

Suara tawa mereka mengisi ruangan, namun tidak mengganggu justru menambah kehangatan. Barista pun tersenyum kecil melihat dua sahabat itu seperti menemukan kembali potongan masa muda yang hilang.

Saat Hujan Membuat Percakapan Menjadi Lebih Dalam

Hujan pelan turun di luar, menepuk-nepuk kaca jendela. Suasana berubah lebih tenang. Dito dan Akbar saling pandang. Topik pembicaraan pun bergeser.

“Bar,” kata Dito, “lo sehat kan? Gue denger lo sempet drop bulan lalu.”

Akbar menarik napas. “Iya… gue kecapekan. Kayaknya makin tua makin gampang tumbang.”

Dito menepuk bahunya. “Kalau butuh sesuatu, bilang. Kita ini temen lama.”

Akbar menunduk sebentar, lalu tersenyum. “Thanks, Dit. Temen kayak lo susah dicari sekarang.”

Percakapan menjadi lebih jujur. Mereka bicara tentang ketakutan, tanggung jawab yang makin berat, bahkan rasa kesepian yang kadang muncul tanpa alasan. Hujan di luar memberi latar suara yang nyaman, membuat mereka merasa seperti berada di ruang pribadi tempat dua laki-laki bisa terbuka tanpa malu.

Hal yang Membuat Humaira Coffee Ideal untuk Reuni

1. Suasana tenang yang tidak mengintimidasi

Cocok untuk percakapan panjang dan dalam.

2. Aroma kopi yang memecah kecanggungan

Sehangat pelukan bagi dua orang yang lama tidak bertemu.

3. Jendela besar yang menghadap lembah

Pemandangan yang membuat hati otomatis melembut.

4. Hujan yang sering turun di Puncak

Menciptakan atmosfer intim yang mendorong keterbukaan.

Menutup Hari dengan Cara yang Tidak Diburu-Buru

Setelah hampir tiga jam, hujan mulai berhenti. Akbar menatap keluar jendela, lalu berkata, “Eh Dit, kita jangan terlalu lama menghilang lagi ya. Hidup makin ribet kalau temen makin dikit.”

Dito mengangguk mantap. “Setuju. Minggu depan ngopi lagi?”

“Boleh. Tempatnya di sini lagi,” jawab Akbar.

Mereka berjalan keluar bersama. Udara dingin Puncak menyapa, tetapi hati mereka jauh lebih hangat. Pertemuan sederhana itu membuka kembali ruang yang sempat tertutup oleh kesibukan hidup.

Humaira Coffee Bogor Puncak bukan hanya coffee shop.
Bagi Dito dan Akbar, tempat itu menjadi saksi bahwa pertemanan lama tidak hilang hanya menunggu ruang yang tepat untuk tumbuh kembali.

About Author

Dea

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *