Ketika Keluarga Sibuk Butuh Ruang Tenang, Gunung Pancar Jadi Tempat Bertemu Lagi
Mobil kecil milik keluarga Adit berbelok perlahan ke kawasan Gunung Pancar Bogor. Matahari baru naik, udara masih lembap, dan aroma tanah basah menyelinap masuk begitu jendela dibuka sedikit. Di kursi belakang, Jarwo anak semata wayang mereka sibuk memainkan ponselnya, tidak banyak bicara.
Adit melirik lewat kaca spion. “Kita sudah sampai, Jar.”
Anak itu hanya mengangguk. Sang ibu, Raras, menepuk pundak suaminya pelan. “Semoga hari ini bisa bikin kita lebih dekat lagi.”
Kesibukan telah menjauhkan mereka. Adit tenggelam dalam pekerjaannya. Raras lelah dengan rutinitas rumah. Sementara Jarwo, yang dulu selalu ceria, kini lebih banyak diam dan menghabiskan waktu dengan gadget. Mereka memutuskan butuh udara baru. Butuh ruang tenang.
Baca Juga: Kuliner Viral di Bogor! Bacang Panas 102 Suryakencana yang Sedap dan Ramai
Saat Hutan Pinus Menyambut
Begitu turun dari mobil, Jarwo mendongak. Deretan pinus menjulang tinggi, rapi dan menenangkan mata. Kabut tipis masih menggantung di antara batang-batangnya.
“Bu… tinggi banget pohonnya,” katanya, suaranya untuk pertama kali terdengar bersemangat.
Raras tersenyum. “Iya, Nak. Cantik, kan?”
Mereka berjalan beriringan ke dalam hutan pinus. Adit yang biasanya serius mulai melambatkan langkah, memperhatikan detail alam yang sering ia lewatkan: suara burung, bayangan cahaya di tanah, dan embun yang menempel di dedaunan.
Gunung Pancar menawarkan hening yang terasa menyembuhkan. Tidak ada bising kota, tidak ada tuntutan, tidak ada suara notifikasi.
Hanya angin, pohon, dan keluarga kecil yang perlahan kembali saling mengingat.
Baca Juga: Bagaimana Olu Signature Coffee Menyatukan Kreator dan Jiwa-Jiwa Sunyi dalam Satu Ruangan
Piknik Sederhana yang Mengubah Suasana
Raras menggelar alas piknik di antara dua pohon. Ia membuka bekal yang disiapkannya sejak pagi: nasi kepal, ayam suwir, buah potong, dan termos berisi teh manis hangat.
Jarwo duduk sambil memeluk lutut. “Kita makan di sini, Bu?”
“Iya,” jawab Adit, “kita makan bareng di bawah pohon, kayak dulu Ayah sama Kakek.”
Jarwo tertawa, “Ayah pernah piknik juga?”
“Tentu,” jawab Adit sambil mengacak rambut anaknya.
Suasana berubah. Obrolan yang lama hilang mulai muncul kembali. Jarwo bercerita tentang sekolah, tentang tugas kelompok, bahkan tentang teman yang membuatnya kesal. Sesuatu yang belakangan jarang ia bagi.
Raras merasakan matanya hangat. “Akhirnya kita bisa ngobrol begini lagi…”
Baca Juga: Ketika Gunung Pancar Menjadi Tempat Pulih Setelah Hubungan Berakhir
Permainan Kecil yang Membuat Tawa Muncul
Setelah makan, Adit mengambil bola kecil dari tas. “Ayo main sebentar. Ayah kalah kalau kamu bisa lewatkan bola ini.”
Jarwo berlari mengejar, tertawa-tawa. Bola melambung di antara batang pinus, memantul di tanah, menciptakan permainan sederhana yang justru terasa seperti momen besar.
Raras memotret dari jauh. Dalam jepretan kameranya, ia melihat dua orang yang ia sayangi saling tertawa pemandangan yang mulai jarang ia lihat selama ini.
“Jangan lari cepat-cepat!” teriak Adit sambil tertawa, terengah-engah. Jarwo hanya menjawab dengan tawa lebih keras.
Di hutan pinus itu, tidak ada target kerja. Tidak ada tugas sekolah. Tidak ada beban.
Hanya tawa yang lama tertahan.
Baca Juga: Di Balik Secangkir Kopi, Olu Signature Coffee Menyimpan Cerita tentang Perjalanan Rasa
Kenapa Gunung Pancar Cocok untuk Keluarga?
1. Ruang luas untuk bergerak
Anak bisa berlari, orang tua bisa santai tanpa merasa sempit.
2. Keindahan pinus yang menenangkan
Cocok untuk piknik, foto keluarga, atau sekadar duduk bersama.
3. Hening yang memulihkan kedekatan
Tidak bising, membuat percakapan mengalir tanpa distraksi.
4. Aroma dan udara sejuk
Membuat tubuh terasa lebih rileks dan pikiran lebih jernih.
Momen Tenang Sebelum Pulang
Senja mulai turun, membuat hutan pinus berubah warna menjadi keemasan. Jarwo duduk di pangkuan Raras sambil meminum teh hangat terakhir dari termos.
“Bu,” katanya pelan, “aku senang ke sini.”
Raras memeluknya. “Ibu juga.”
Adit duduk di samping mereka, merasakan sesuatu yang ia rindukan kehangatan keluarga. Ia menyentuh bahu keduanya dan berkata, “Kita harus sering-sering begini.”
Jarwo mengangguk cepat. “Iya! Minggu depan ke sini lagi!”
Mereka bertiga tertawa. Kali ini tawa yang tulus, bukan sekadar formalitas.
Baca Juga: Sehari di Dairyland Cimory, Tempat Anak dan Orang Dewasa Sama-Sama Menemukan Senyum
Pulang dengan Hati yang Lebih Dekat
Saat mereka kembali ke mobil, hutan pinus bergoyang pelan ditiup angin. Adit menoleh sebentar ke belakang sebelum menutup pintu mobil.
“Terima kasih,” bisiknya pada hutan seakan ia berbicara pada sahabat lama.
Gunung Pancar tidak memberi mereka solusi besar.
Tidak mengubah hidup dalam sehari.
Namun ia memberi ruang ruang untuk bicara, untuk mendengar, untuk saling melihat lagi.
Dan kadang, itu cukup untuk membuat keluarga kembali pulang satu sama lain.