Hari yang Diam-Diam Memperbaiki Hubungan Ayah dan Anak di Dairyland Cimory
Udara pagi yang sejuk menyapu pipi Arman ketika ia turun dari mobil. Di sampingnya, Nay, putri remajanya, berjalan dengan langkah pelan sambil menatap ponsel. Sudah beberapa bulan ini Arman merasa jarak di antara mereka makin lebar. Nay lebih sering menghabiskan waktu di kamar, sibuk dengan tugas sekolah, konten media sosial, atau dunia remajanya sendiri yang tidak selalu bisa Arman pahami.
Hari itu, ia mengajaknya ke dairyland cimory dengan harapan sederhana menemukan satu momen kecil yang bisa mendekatkan lagi hubungan mereka.
“Lumayan adem juga ya,” gumam Arman membuka percakapan.
Nay hanya mengangguk sambil menyelipkan ponsel ke saku hoodie-nya. Itu saja sudah membuat Arman merasa sedikit lega.
Baca Juga: Maraca Books & Coffee Bogor! Tempat Sempurna untuk Ngopi, Baca, dan Bekerja
Masuk ke Dunia yang Lebih Pelan
Begitu melangkah masuk ke area cimory dairyland bogor, mereka disambut aroma rumput basah, bangunan farmhouse putih, dan pegawai dengan kostum peternak Eropa. Suasana itu membuat Arman merasa seperti berada di desa kecil yang tak tersentuh hiruk pikuk kota.
Nay mulai memperhatikan sekeliling, terutama ketika melihat padang rumput dan hewan-hewan yang tampak jinak. “Lucu juga,” katanya lirih. Meski pendek, kalimat itu sudah terasa seperti pintu kecil yang terbuka.
Arman merespons ringan, “Iya, kayak bukan di Bogor ya.”
Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, mereka berjalan berdampingan tanpa keheningan yang canggung.
Baca Juga: Di Balik Kesibukan Kota, Olu Signature Coffee Jadi Ruang Sunyi yang Dicari Banyak Orang
Menjelajahi Wahana dan Menghapus Sedikit Kekakuan
Arman mengajak Nay mencoba beberapa aktivitas di area wahana cimory puncak terbaru, meski ia tahu remaja kadang canggung dengan aktivitas keluarga. Namun ketika mereka masuk ke rumah kelinci, Nay langsung berubah. Ia berjongkok, memberi makan kelinci-kelinci kecil yang bergerak cepat menghampirinya.
“Pak, lihat ini! Warnanya beda-beda!” seru Nay sambil tertawa kecil.
Arman memotret diam-diam, bukan untuk dipamerkan, tetapi untuk dirinya sendiri untuk mengingat bahwa anaknya masih punya sisi polos yang dulu sering ia lihat.
Ketika mereka pindah ke area domba dan memberi makan sapi perah, percakapan kecil mulai mengalir. Tentang sekolah. Tentang teman. Tentang hal-hal remeh yang justru terasa penting bagi Arman.
“Hari ini lumayan seru, Pak,” ujar Nay saat mereka keluar dari wahana.
Arman merasakan sesuatu yang hampir ia lupakan kehangatan menjadi seorang ayah yang dibutuhkan.
Baca Juga: Ramai Dibicarakan, Ini Alasan Generasi Muda Betah Berjam-Jam di Cora Clay Cafe
Nilainya Lebih dari Sekadar Angka
Saat berhenti untuk minum yoghurt dingin di café, Arman mendengar beberapa pengunjung bicara soal harga tiket dairyland. Ia pun sempat mengeceknya sebelum berangkat, memastikan semuanya masuk akal untuk perjalanan sehari.
Dan kini, setelah melihat Nay tersenyum begitu tulus, ia merasa harga berapa pun seolah tak relevan. Bukan masalah murah atau mahal. Yang penting, ia mendapatkan kesempatan untuk mendekat lagi pada anaknya kesempatan yang tidak selalu datang.
Baca Juga: Ramai Dibicarakan, Ini Alasan Generasi Muda Betah Berjam-Jam di Cora Clay Cafe
Danau Tenang yang Menghadirkan Percakapan Lebih Jujur
Mereka berjalan menyusuri jalur menuju danau kecil. Airnya memantulkan langit cerah dan pepohonan hijau, menciptakan suasana yang membuat langkah melambat dengan sendirinya.
Di salah satu bangku, mereka duduk berdua. Awalnya hening, hingga akhirnya Nay berkata pelan “Pak… aku bukan nggak mau cerita. Kadang capek aja sama semuanya.”
Arman menatap anaknya yang kini bukan lagi bocah, tetapi seseorang yang belajar menghadapi dunia sendiri. “Bapak ngerti. Kalau kamu mau cerita pelan-pelan, Bapak ada.”
Nay tersenyum—kecil, tapi penuh makna. Dan untuk pertama kalinya, Arman merasa jarak di antara mereka mulai mengecil.
Tempat ini memang sering disebut wisata keluarga Bogor, tapi hari itu Dairyland menjadi ruang aman untuk dua hati yang berusaha memahami satu sama lain.
Baca Juga: Di Balik Riuh Kota, Asimetri Kopi Jadi Tempat Banyak Orang Menyembuhkan Diri Diam-Diam
Hal yang Membantu Mereka Mendekat Lagi
1. Wahana hewan yang memecah kecanggungan
Interaksi alami membuat suasana lebih santai.
2. Lingkungan yang lembut dan tidak bising
Remaja lebih mudah membuka diri di suasana tenang.
3. Ruang duduk natural
Banyak sudut yang cocok untuk percakapan pelan.
4. Aktivitas sederhana yang bisa dilakukan bersama
Dari memberi makan hewan hingga naik kereta mini.
Pulang dengan Hati yang Lebih Lembut
Saat mereka berjalan menuju pintu keluar, Matahari sudah mulai condong ke barat. Arman merasa tubuhnya lelah, tapi hatinya hangat. Perjalanan yang ia pikir hanya “sekadar mencoba” ternyata menjadi titik penting yang tidak akan ia lupakan.
“Pak,” panggil Nay sambil meraih lengan ayahnya, “Makasih ya diajak ke sini.”
Arman mengangguk, menahan emosi kecil dalam dadanya. “Kapan-kapan kita datang lagi.”
Dairyland Cimory bukan hanya tempat untuk bermain. Bagi mereka, ia adalah ruang kecil yang memulihkan hubungan pelan, tapi nyata.
Kadang, kebahagiaan memang datang dari langkah-langkah yang sederhana.