16 January 2026
Cafe

Dari Jalanan yang Penuh Stres ke Humaira Coffee yang Menghangatkan Keluarga

Dari Jalanan yang Penuh Stres ke Humaira Coffee yang Menghangatkan Keluarga

Sudah hampir dua jam keluarga Ega terjebak di jalur Puncak. Mobil berjalan pelan, anak-anak mulai gelisah, dan istrinya tampak kelelahan. Suara klakson sayup-sayup terdengar dari belakang, sementara udara dingin Bogor justru terasa menekan kepala.

“Ayah… bosan…” rengek si bungsu, Rafi.

Ibu menarik napas panjang. “Coba cari tempat berhenti sebentar, Yah. Anak-anak butuh istirahat.”

Ega melihat papan kayu kecil di sisi kiri jalan bertuliskan Humaira Coffee Bogor Puncak. Dari luar, bangunannya sederhana, hangat, dengan jendela besar menghadap ke hijau pegunungan.

“Kayaknya bagus. Kita masuk ya,” kata Ega sambil membelokkan mobil.

Baca Juga: Sehari di Dairyland Cimory, Tempat Anak dan Orang Dewasa Sama-Sama Menemukan Senyum

Masuk ke Ruang yang Menghangatkan

Begitu pintu terbuka, aroma kopi dan roti panggang langsung menyelimuti mereka. Suasananya jauh berbeda dari panas dan bisingnya jalanan. Humaira Coffee terasa seperti ruang pelarian kecil yang tidak dibuat-buat: lampu kuning yang lembut, meja kayu yang tersusun rapi, dan suara air dari kolam mini di sudut ruangan.

Rafi berhenti menangis dan mulai melihat-lihat ruangan. “Ayah, ada ikannya!”

Kakaknya, Dena, yang remaja, ikut tersenyum kecil senyum yang jarang muncul selama perjalanan.

Ibu menyentuh lengan Ega. “Terima kasih berhenti di sini.”

Ega hanya mengangguk, merasa tempat ini seperti anugerah kecil di tengah perjalanan yang melelahkan.

Baca Juga: Pelarian Tenang Dua Sahabat di Enchanting Valley Safari Puncak

Minuman Hangat yang Mengubah Suasana

Mereka duduk di meja dekat jendela besar. Hujan tipis mulai turun, membuat kaca dipenuhi titik air yang terlihat indah dari dalam. Pegawai menyajikan cokelat panas untuk anak-anak dan kopi latte untuk orang tua.

Rafi memegang gelas hangat itu dengan kedua tangan. “Enak banget, Bu…”

Dena membuka buku catatan kecil dari tasnya, mungkin terinspirasi oleh ketenangan tempat itu. Ibu mengusap punggung Ega sambil berkata, “Melepas penat di sini rasanya beda.”

Ega menyesap kopi pertamanya. Aromanya lembut, tidak pahit berlebihan, dan hangatnya meresap sampai ke dada. Rasanya seperti ada energi baru yang mengalir setelah kepala terasa penat sejak pagi.

Baca Juga: Tidak Hanya Kopi Menu Asimetri Kopi yang Diam-Diam Jadi Favorit Pelanggan

Memberi Ruang untuk Bernafas Kembali

Di luar jendela, kabut turun perlahan, menutupi sebagian bukit. Anak-anak mulai bercerita tentang hal-hal sederhana—tentang sekolah, teman, dan rencana mereka setiba di villa. Percakapan yang sebelumnya tampak mustahil terjadi di tengah macet yang membuat semua orang tegang.

Ibu berkata, “Harusnya kita dari tadi berhenti di tempat kayak gini.”

Ega tertawa kecil. “Kalau tahu begini, Ayah nggak bakal maksa terus jalan.”

Keduanya saling pandang. Ada rasa lega yang sulit dijelaskan. Macet sejenak terlupakan. Yang tersisa hanyalah keluarga yang kembali menemukan ritme hangatnya.

Baca Juga: Di Balik Secangkir Kopi, Olu Signature Coffee Menyimpan Cerita tentang Perjalanan Rasa

Hal-Hal Kecil Humaira Coffee yang Menenangkan

1. Aroma kopi yang menenangkan

Membantu meredakan stress setelah perjalanan panjang.

2. Suara air kolam mini

Membuat anak-anak betah duduk tanpa rewel.

3. Jendela besar menghadap alam

Membuat siapa pun merasa lebih tenang hanya dengan melihat keluar.

4. Interior sederhana tapi hangat

Ruang yang terasa “rumah”, bukan tempat yang penuh formalitas.

Baca Juga: Lebih dari Sekadar Kafe, Asimetri Kopi Menjadi Ruang Aman bagi Kreator dan Jiwa-Jiwa Sunyi

Ketika Hujan Menjadi Sahabat

Hujan turun lebih deras. Suaranya menepuk atap seng coffee shop, menciptakan ritme yang anehnya menenangkan. Ega dan istrinya memandang ke luar sambil tersenyum.

“Kayaknya kita memang harus berhenti di sini,” kata istrinya.

Ega mengangguk. “Mungkin memang semesta suruh kita istirahat dulu.”

Dena mengangkat wajah dari bukunya dan berkata, “Di sini enak banget. Kayak jauh dari semua masalah.”

Rafi mengangguk sambil memainkan sedotan. “Aku nggak mau macet lagi…”

Semua tertawa.

Kadang, perjalanan terbaik adalah yang membuat keluarga berhenti sejenak untuk mengingat bahwa mereka tidak sedang mengejar apa-apa, hanya ingin sampai dengan hati yang baik.

Baca Juga: Hari yang Diam-Diam Memperbaiki Hubungan Ayah dan Anak di Dairyland Cimory

Pulang dengan Wajah yang Lebih Tenang

Setelah hampir satu jam, hujan mereda. Ega memandang istrinya, lalu anak-anak. Wajah mereka jauh lebih segar dibanding ketika keluar dari mobil.

“Yuk, kita lanjut,” katanya.

Saat mereka kembali ke mobil, Rafi berkata, “Ayah, nanti kalo macet lagi, kita berhenti di sini ya?”

Ega tersenyum. “Iya, Nak. Kapan pun kamu mau.”

Humaira Coffee Bogor Puncak bukan hanya tempat untuk minum kopi. Bagi keluarga Ega, ia menjadi ruang kecil yang mengembalikan suasana ruang yang memulihkan, meski perjalanan belum selesai.

Dan kadang, jeda seperti itulah yang membuat perjalanan terasa lebih mudah dijalani.

About Author

Dea

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *