17 January 2026
Kuliner

Suara Dapur Kota Hujan! Kisah Penjual di Tempat Makan Khas Bogor Terkenal

Suara Dapur Kota Hujan! Kisah Penjual di Tempat Makan Khas Bogor Terkenal

Pukul lima pagi, di sebuah dapur kecil di Gang Cibogor, suara sendok kayu bersentuhan dengan panci besar terdengar seperti ritual harian. Bu Rani, perempuan berusia hampir enam puluh, sudah mulai mengaduk kuah soto kuning yang ia jaga sejak era suaminya masih muda.

Baginya, rasa bukan perkara bumbu saja. “Rasa itu tentang siapa yang menunggu di luar,” ucapnya sambil menambahkan potongan daging ke dalam panci. “Kalau orang datang jauh-jauh, saya tidak boleh mengecewakan.”

Di luar warung, kabut pagi Bogor bergelayut rendah, seakan menunggu dapur-dapur kota ini menyalakan harinya. Dari warung kecil seperti milik Bu Rani, hingga rumah makan besar yang penuh keluarga, tempat makan khas Bogor terkenal tidak hanya menyajikan makanan mereka menyajikan cerita, kerja keras, dan kehangatan yang tak selalu terlihat oleh pelanggan.

Inilah perjalanan melalui suara para penjaga rasa Bogor.

Baca Juga: Ramai Turis, Rasa Otentik! Bakso Mas Joko Mantapkan Diri sebagai Ikon Kuliner Bogor

1. Soto Kuning Bu Rani

Warung kecil milik Bu Rani terlihat biasa dari luar. Bangkunya sederhana, meja kayunya sudah dipernis belasan kali, tetapi antrean selalu panjang. Ketika ditanya apa rahasia soto kuningnya, ia tersenyum kecil.

“Rahasianya cuma satu: saya tidak pernah tergesa-gesa.”

Setiap subuh ia memulai dengan merebus daging selama berjam-jam hingga empuk. Kuah kuningnya bening, tidak berminyak, dan memiliki cita rasa ringan yang khas. Pelanggan datang dari berbagai kota, bahkan ada yang mengaku rutin pulang-pergi dari Depok hanya untuk semangkuk soto.

Baginya, soto bukan sekadar makanan. Itu warisan dari suaminya yang dulu membuka warung pertama kali. Ia menjaga rasa itu seolah menjaga kenangan.

Baca Juga: Nyaman Seperti Rumah, KOBA Coffee Bogor Jadi Basecamp Baru Anak Muda 2025

2. Warung Pepes “Pojok Beringin”

Tidak jauh dari pusat kota, sebuah pohon beringin besar menaungi rumah makan tua yang menjadi pusat kuliner Sunda. Pemiliknya, Pak Usep, adalah generasi ketiga.

Setiap hari, ia dan istrinya membuat puluhan pepes: ikan mas, jamur, tahu, bahkan teri pedas. Semua dibungkus daun pisang, dilipat hati-hati, lalu dikukus di atas tungku besar.

“Daun pisang itu harus dijemur dulu, kalau tidak wangi pepesnya beda,” tutur Pak Usep sambil mengipas arang pelan.

Tempat ini bukan sekadar rumah makan. Banyak keluarga besar Bogor merayakan ulang tahun, syukuran, bahkan pertemuan keluarga di sini. Pepesnya terkenal bukan karena bumbunya banyak, tetapi karena keaslian rasanya.

Itulah ciri utama makanan Sunda yang ingin tetap ia jaga sederhana, tetapi meresap.

Baca Juga: Kuliner Legendaris Bogor! Mie Ayam dan Bakso yang Konsisten Ramai dari Dulu Hingga Sekarang

3. Asinan Bu Yayah

Berjalan beberapa blok, kita sampai pada kedai asinan kecil yang dikelola Bu Yayah. Tak ada plang besar, tak ada desain modern. Hanya meja kayu, kursi plastik, dan bak besar berisi sayuran segar.

“Orang pikir saya tinggal siram kuah lalu selesai,” katanya sambil mengiris kol tipis-tipis. “Padahal bagian sulitnya justru menjaga bahan tetap segar dari pagi sampai sore.”

Kuah asinan buatannya memiliki keseimbangan pedas dan asam yang membuat bibir sedikit bergetar. Kacang gorengnya renyah, disangrai sendiri oleh suaminya setiap malam.

Pelanggan lama sering datang hanya untuk membawa pulang dua atau tiga bungkus. Tidak jarang mereka berbicara lembut tentang masa kecilnya, tentang ibu mereka yang dulu selalu membelikan asinan di tempat ini.

Selain rasa, kedai ini adalah wadah nostalgia.

Baca Juga: Cari Tempat WFC di Bogor? Temu Degayu Hadir Dengan Suasana Tenang dan Banyak Colokan

4. Sate Sumsum Mang Daryat

Mang Daryat memulai usahanya dari gerobak kecil di malam hari. Tidak ada yang percaya bahwa sate sumsum bisa dijual di Bogor. Banyak yang ragu, beberapa bahkan menolak mencobanya.

Tapi ia bertahan. “Saya cuma ingin tunjukkan kalau Bogor itu berani bereksperimen,” katanya sambil membolak-balik sate di atas arang.

Tekstur sumsum yang lembut dikombinasikan dengan bumbu kecap dan aroma bakaran membuatnya jadi favorit baru. Kini ia menjadi salah satu rekomendasi paling menarik saat orang mencari tempat makan khas Bogor terkenal yang unik.

Setiap malam, asap dari gerobak Mang Daryat menyatu dengan udara kota. Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya ke arang merah menyala, seolah ikut menjaga cita rasa khasnya.

Baca Juga: Cari Tempat WFC di Bogor? Temu Degayu Hadir Dengan Suasana Tenang dan Banyak Colokan

5. Laksa Kang Iin

Di Kampung Cibadak, Laksa Kang Iin menjadi tujuan banyak warga saat hujan turun. Kuah laksa yang pekat tapi tidak berat dibuat dari santan encer, udang rebon, serta campuran rempah yang telah diukur sejak tahun 70-an.

“Resep ini bukan dari saya. Dari nenek,” katanya sambil tersenyum bangga.

Laksa buatan Kang Iin punya wangi kemangi yang kuat. Pembeli sering datang untuk makan di tempat karena ingin menikmati laksa dalam kondisi paling segar.

Rasanya hangat, lembut, menenangkan jenis makanan yang membuat seseorang merasa diterima.

About Author

Dea

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *